Unduh Aplikasi

Surat Terbuka Edi Obama Tak Patut

Surat Terbuka Edi Obama Tak Patut
Aryos Nivada

BANDA ACEH - Surat terbuka Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Bireuen, Edi Saputra kepada pelaksana tugas gubernur Aceh Nova Iriansyah kembali menuai tanggapan. Tanggapan datang dari Aryos Nivada, Akademisi Universitas Syiah Kuala yang menilai curahan hati Edi Obama- sapaan akrab Edi Saputra – itu tak patut.

“Nova Iriansyah hari ini adalah pemimpin lebih lima juta rakyat Aceh yang amat tidak layak dipermalukan di depan umum. Utang-piutang personal antara Edi-Nova sudah diselesaikan secara personal, bahkan dengan cara dicicil,” kata Aryos Nivada, Sabtu (29/9).

Aryos  mengatakan pengakuan Edi mengeluarkan Rp 8 miliyar, di laman Facebook-nya pada proses politik Pilkada lalu, semestinya tidak dipandang sebagai utang-piutang antarpersonal yang mesti dilunasi. Itu kata Aryos karena Edi memiliki kesamaan visi dan misi dengan Irwandi-Nova yang mengimpikan Aceh Hebat.

“Edi memilih mendedekasikan energinya untuk sama-sama mewujudkan impian itu. Jika dalam perjalannya terjadi friksi, tentu tak elok menagih energi yang telah dihabiskan kepada Partai Demokrat saja, apalagi dipersonalisasikan pada seorang Nova Iriansyah, yang notabene Ketua DPD Demokrat Aceh,” sebut Aryos.

Disisi lain lanjut Aryos, Edi mesti sadar terhadap batas waktu (cut off) antara Nova sebagai politisi yang sedang berjuang bersama Irwandi dalam Pilkada, dengan Nova saat ini sebagai Plt Gubernur Aceh pasca "musibah" menimpa Gubernur Irwandi Yusuf.

“Sehingga, tidak pada tempatnya mengungkit-ungkitnya kembali di depan umum. Apalagi hubungan antarpersonal di dunia politik selalu pasang-surut dan amat dinamis,” ujar Aryos.

Menurut Aryos, dinamika yang terjadi di internal DPD Partai Demokrat seyogyanya diselesaikan sesuai AD/ART kepartaian. Jika mekanisme tersebut tidak memuaskan maka Edi Obama dapat menempuh jalur hukum secara berjenjang untuk menjaga citra politiknya.

“Jalan inilah (hukum)  yang di tempuh para politisi yang terhambat langkahnya oleh Keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan seyogyanya, Edi  menjaga citra politiknya walau dalam kemarahan,” kata Aryos.

Aryos menilai mekanisme hukum merupakan cara-cara yang elegan dari pada harus menagih “utang” politik meski harus dibayar dengan cara tak patut. “Bagi seorang Edi Obama, citra politiknya di mata rakyat tentu jauh lebih bernilai daripada uang Rp 8 miliyar,” pungkasnya.

iPustakaAceh

Komentar

Loading...