Unduh Aplikasi

Surat Cinta untuk Penghina Abu Doto Zaini Abdullah

Surat Cinta untuk Penghina Abu Doto Zaini Abdullah
Abu Doto Zaini Abdullah bersama istri Niazah A Hamid. Foto: Ist

Oleh: Ambo A. Ajis

Ironi akan hadir dalam diri manusia ketika kekuasaan menjadi tujuan akhir. Mengapa, karena kekuasaan atau berkuasa memang sangatlah menggoda dan banyak kenikmatan duniawi yang ditawarkan olehnya, uang, harta, tahta dan juga wanita merupakan rangkaian gemerlap duniawi yang bisa sangat menyilauakan, membawa manfaat sesaat dan pastinya kerugian jangka panjang di dunia akhirat jika dilandas itikad buruk. Bilakah ini terjadi? Tentu saja terjadi, sebab ini hukum langit". Salah satu diantara contoh buruknya yaitu, mengejar kekuasaan dengan cara menghina manusia, hanya untuk meyakinkan pemilih pada pilkada Gubernur Aceh tahun 2017 ini

Tersebutlah kisah Zaini Abdullah--sapaan Abu Doto Zaini (AZAN), dihina oleh manusia dan sepertinya “sengaja” dibiarkan, hanya demi memuluskan langkah calon pemimpin yang lahir dari rahim yang juru bicaranya telah melakukan penghinaan. Sungguh, cara mudharat yang merendahkan manusia ciptaan Allah Subhana Wataala seperti ini dengan menyebut laknat, bisa jadi adalah laknat atas kebabablasan demokrasi di Aceh, adalah bagian dari cara-cara menghina Allah Subhana Wataala dan tidak takut pada kekuasaan yang telah dihinanya.

Apa yang salah dari Abu Doto Zaini. Mengapa mencaci makinya menjadi kesenangan kalian. Bukankah kalian mengetahui dan mengenal sosok beliau seorang yang telah jelas juga berkorban banyak untuk Aceh. Apakah kalian lupa, beliau adalah seorang dokter yang mumpuni, meninggalkan masa depan gemilangnya di usia muda, hanya mengabdikan diri untuk mengembalikan harkat dan martabat Aceh. Apakah kalian lupa, beliau adalah salah seorang yang di sumpah di gunung Halimon tahun 1976 dan mendapat gelar sarana di Universitas Aceh dengan lulus sangat memuaskan oleh yang mulia Muhammad Hasan di Tiro, pendiri Gerakan Aceh Merdeka. Lalu, apakah kalian pendek ingatan, ketika tahun-tahun pertama perjuangan, Abu Doto harus meninggalkan keluarga demi menegakan amar makruf nahi mungkar di Nanggroe Aceh yang ketika itu kalian masih tidak mengerti apa dan mengapa harus berjuang menegakan kedaulatan Aceh.

Dan, lalu, mengapa kalian memiliki ingatan yang sangat pendek, wahai pendengki. Bukankah Abu Doto di masa tahun 2012 sampai sekarang terus membangun Aceh. Lihatlah karya beliau yang bisa kalian nikmati hari ini. Program Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh (JKRA), program jaminan pendidikan, program pembangunan Infrastruktur yang sangat baik di jalan lintas timur, lintas tengah, dan lintas barat-selatan dan lain sebagainya, telah kalian nikmati. Abu Doto Zaini (AZAN) juga sudah menaikan tarih Upah Minimal Propinsi (UMP) Aceh menjadi Rp 2,5 juta. Abu Doto Zaini (AZAN) telah menjaga hak Ibu melahirkan dan suami yang menjaganya melalui Pergub Cuti Hamil dan melahirkan. Beliau berhasil menambah universitas negeri di Aceh seperti, Universitas Samudra Langsa (UNSAM) di Kota Langsa, Universitas Teuku Umar di Meulaboh, Aceh Barat dan IAIN Zawiyah Cotkala di Langsa.

Lihat karya Abu Doto yang telah konversi Bank Aceh menjadi Bank Aceh Syariah, membebaskan Aceh dari ekonomi riba. Juga lihat dengan baik, kedaulatan pengelolaan migas Aceh dengan adanya PP Migas Aceh dan terbentuknya Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) sebagai turunan implementasi UUPA. Demikian halnya usaha Abu Doto dalam membangun Kawasan Ekonomi Khusus di kawasan Lhokseumawe dan daerah lainnya. Juga pembangunan infrastruktur pelabuhan (seperti: Lampulo dan Krueng Gekueh) dan bandara di kabupaten terpencil (seperti Bener Meriah, Gayo Lues), adanya peningkatan status Pelabuhan Lampulo menjadi pelabuhan nusantara yang mampu menyerap 50.000 tenaga kerja, peningkatan status Pelabuhan Idi menjadi Pelabuhan Nasional, peningkatan status tersebut dapat dicapai lebih cepat 18 tahun dari rencana awal sedang dalam pelaksanaan dan pada akhirnya akan segera terwujud.

Pertanyaannya kemudian, apakah fakta-fakta di atas, telah kalian ingkari hanya sekadar demi kekuasaan yang tidak seberapa. Dan, apakah karena kerakusan kalian akan nikmatnya kekuasaan menyebabkan syaraf akal sehat telah hilang dari hati sehingga untuk menghormati dan menghargai senior kalian dalam Gerakan Aceh Merdeka saja tidak ada lagi? Sungguh, dimana harga diri kalian, wahai kalian yang menamakan diri sebagai pejuang nanggroe.

Masih ada waktu untuk kembali ke jalan yang benar, hargailah senior dan orang tua kita Abu Doto Zaini (AZAN) yang sampai hari ini nafasnya diperuntukan untuk kembalinya kejayaan Aceh yang merdeka.

Penulis adalah pemerhati sosial di Aceh

Komentar

Loading...