Unduh Aplikasi

Suprijal Yusuf: Pemekaran Menjadi Keharusan karena Ketimpangan Pembangunan Antar Wilayah

Suprijal Yusuf: Pemekaran Menjadi Keharusan karena Ketimpangan Pembangunan Antar Wilayah
Suprijal Yusuf

BANDA ACEH - Tokoh Pantai Barat Selatan Aceh (Barsela), Suprijal Yusuf angkat bicara terkait isu pemekaran Aceh Leuser Antara (ALA) yang kembali digaungkan para kepala daerah di wilayah tengah Aceh sejak satu pekan terkahir.

Suprijal melihat, isu pemekaran tersebut tidak akan pernah hilang dalam pikiran masyarakat jika sudah merasakan di nomor duakan, baik dari sisi pembangunan infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi.

Kata Suprijal, pembahasan mengenai pemekaran tersebut baik ALA maupun Aceh Barat Selatan (ABAS) itu terus dibicarakan di kalangan tokoh hingga masyarakat dari dua wilayah ini. 

"Karena merasa ada ketimpangan dalam pemerataan pambangunan yang dirasa tidak pernah adil dilakukan Pemerintah Aceh," kata Suprijal Yusuf saat dihubungi AJNN, Minggu (27/9). 

"Coba lihat pembangunan di wilayah pantai timur, utara bahkan Pidie, begitu banyak, tidak sebanding dengan wilayah barat, selatan, tenggara maupun tengah," ujar pria yang akrab disapa bang Su ini. 

Suprijal mencontohkan, dari sisi infrastruktur transportasi darat di daerah yang melewati gunung Seulawah itu utara sudah sangat lebar dan bagus. Bahkan, sekarang sudah ada jalan tol, hingga rel kereta api. 

"Tapi coba kita lihat lagi di wilayah tengah dan barat selatan Aceh, jalannya masih banyak yang sempit dan belum banyak yang bagus konstruksi aspalnya," ucapnya. 

Mantan jurnalis ini juga memberikan contoh lain, terowongan gunung Geuretee yang selalu disuarakan masyarakat Barsela sampai hari ini tidak direspon secara serius untuk diperjuangkan ke pusat.

Padahal, lintasan Geuretee saat ini sudah cukup berisiko, mulai dari badan jalan yang sempit, juga rawan longsor. Faktanya jelas terlihat, setiap hujan deras, maka longsor tanah maupun bebatuan pasti terjadi. 

"Belum lagi diiringi jurang, tebing badan jalan sering longsor bila sedikit terjadi hujan deras. Memang belum memakan korban jiwa, tapi ini masyarakat khawatir kedepannya bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan," ungkap Suprijal.

Selain itu, tambah Suprijal, ratusan lahan pertanian di wilayah Barsela masih tadah hujan, dan belum ada irigasi teknis di kawasan tersebut. 

Saat ini, masyarakat di sana hanya mampu bercocok tanam untuk menanam padi setahun sekali, hal itu karena mereka tidak bisa bertani dengan intensif tiga kali tanam dalam setahun karena kesulitan air.

"Saya kira kalau pemerintah mampu mewujudkan keadilan yang baik, sesuai kebutuhan, maka gerakan keinginan pemekaran ini akan hilang," pungkas Bang Su.

Komentar

Loading...