Unduh Aplikasi

INTERMESO

Sumbang

Sumbang
Ilustrasi: MTA

IBARAT tim sepak bola, pemberantasan korupsi itu seharusnya hanya menyisakan Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai pemain utamanya. Mulai dari penyidikan hingga ke pengadilan, para pegawai KPK-lah yang berada di barisan terdepan menggiring para tersangka ke penjara. 

Sedangkan dalam mengisi skuad, KPK haruslah memiliki sebuah kewenangan untuk merekrut para petugas kepolisian dan kejaksaan yang benar berintegritas. Menyeleksi orang-orang yang akan berdiri dalam barisan utama pemberantasan korupsi. 

Lantas, setelah petugas polisi dan kejaksaan itu menyatakan minat dan tekad untuk bergabung, mereka diminta untuk memilih. Karena tidak mungkin bekerja sebagai pegawai KPK dan di saat yang sama juga berstatus anggota kepolisian atau kejaksaan. 

Pegawai KPK itu harusnya orang yang independen. Mereka harus tunduk pada satu komando, yakni aturan main yang ditetapkan oleh KPK lewat para komisioner. Jika berstatus pegawai kepolisian, atau kejaksaan, mereka akan memiliki konflik kepentingan. Apalagi saat harus berhadapan dengan kejahatan yang dilakukan oleh oknum-oknum di institusi asal. 

Namun kini tim itu semakin kacau. Jika dulu mereka dihajar dari luar, kini para punggawa KPK, yang semalam ini terlibat dalam pengusutan dan pengungkapan kasus-kasus korupsi besar, mulai tersisih. Tak jelas lagi mana tim utama, mana tim cadangan. 

Jika dulu mereka diteror lewat upaya pembunuhan atau dibuat cacat seumur hidup, kini periuk nasi mereka digoyang. Lewat berbagai upaya, dan upaya itu berhasil sejauh ini, mereka dicampakkan dengan berbagai alasan dan cara. 

Dan kini, upaya mendukung pelemahan KPK itu malah memiliki buzzer sendiri. Buzzer ini menyampaikan pesan seolah-olah proses seleksi pegawai KPK, sesuai dengan pengalihan status menjadi aparatur sipil negara, adalah hal yang lumrah. 

Mereka terus menyampaikan pesan bahwa tes wawasan kebangsaan, yang menyebabkan 75 pegawai KPK terancam dipecat, adalah sebuah keharusan sesuai aturan. Tak ada yang perlu disalahkan, hanya perlu dijalankan. 

Menyelamatkan KPK itu bukan hanya tentang Novel Baswedan yang kehilangan penglihatan akibat disiram air keras oleh kaki tangan koruptor. Ini juga bukan tentang pegawai KPK yang menerima ancaman atau mengalami percobaan pembunuhan. 

Ini tentang kehidupan bernegara yang wajar. Tak ada drama apalagi pencitraan. Karena selama ini, mereka yang menjadi tulang punggung KPK itu tak pernah mencari panggung. 

Mereka hanya mencoba menjalankan amanah konstitusi untuk melindungi negeri ini dari para pencuri. Seharusnya kita malu karena tak benar-benar berusaha menyuarakan kebenaran, walau saat ini terdengar sumbang.

Komentar

Loading...