Unduh Aplikasi

POLEMIK PENGGUSURAN WARGA KOPELMA DARUSSALAM

Suara Hati Pengabdi USK

Suara Hati Pengabdi USK
Forum warga Kopelma Darussalam saat bertemu DPRA. Foto: AJNN/Indra Wijaya.

BANDA ACEH - Bibir mereka bergetar saat bicara. Kulitpun riput tanda penunaan. Gariswajah mereka mulai luntur. Bicara pun terbata-bata. Faktor usia menandakan bahwa tubuh mereka mulai rentan.

Namun, kemarin Selasa (23/2) mereka memaksakan pergi menemui pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Dengan perlahan mereka menaiki tangga. Sedikit tergopoh-gopoh tak jadi masalah. Meski umur sudah tua, tak menyurutkan niat mereka untuk curhat kepada wakil rakyat itu.

Di ruang Badan Musyarawarah DPRA mereka berbagi cerita. Tempat yang biasa dijadikan forum diskusi LSM, anak muda, kini menjadi panggung para lansia berumur 70-an keatas. Mereka mengatasnamakan Forum Warga Darussalam.

Baca: Masuk Tanpa Surat Tugas, Petugas Biro Rektorat USK Dihadang Warga Kopelma

Tujuan forum itu bertemu pimpinan DPRA tak lain untuk mengeluh mengenai surat intruksi Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) yang meminta mereka segera mengosongkan area Sektor Timur tempat para lansia itu tinggal.

Padahal, sebelum USK besar seperti sekarang, merekalah yang menjadi tenaga pengajar pertama saat universitas itu masih hutan belantara.

Sri Winarti salah seorang lansia yanng rumahnya akan digusur mengatakan, USK tak menghargai lagi orang tua yang membesarkan nama kampus tersebut. Seakan-akan lupa pada sejarah.

Padahal ia dan dosen lainnya sudah tinggal di Kopelma sebelum Kopelma itu ada. Pun demikian, rata-rata yang tinggal di komplek timur itu janda dan lansia diatas 70 tahun. 

Awalnya, ia dikirimi surat pada 22 Oktober 2020. Dalam surat rektor USK itu disebutkan setidaknya ada 20 rumah yang dibongkar. Namun pada 25 Desember ia kembali dikirimi surat bahwa di dusun timur itu bertambah yang dibongkar sebanyak 39 rumah.

"Kami harus pindah dan akhir Maret kami harus sudah mengosongkan. Jadi ibu merasa galau karena tanah tidak ada, rumah tidak punya. Karena kami tidak ingin memiliki, hanya ingin tinggal hingga akhir hayat kami," ucapnya.

Baca: Petugas Biro Rektorat USK Dihadang Warga, Samsul: Itu Rumah Negara

Buk Cut salah satunya, istri dari Almarhum Prof Ali Basrah. saat ini usianya tak lagi muda. Usianya hampir 88 tahun. Saat bicara pun bibirnya terbata-bata dan penuh jeda.

Ia tak memiliki banyak tenaga lagi. Saat surat dari Rektor USK diterima, seperti hantaman keras untuk dirinya. Pasalnya, dalam surat itu ia diberi limit waktu hingga akhir Maret 2021 untuk mengosongkan rumah tempat ia tinggal.

"Saya janda. Usia saya hampir 88 tahun. Bapak sudah meninggal dan saya harus meninggalkan rumah itu tanpa ada kompensasi," kata Buk Cut menyampaikan isi hatinya kepada pimpinan DPRA, Selasa (23/2/2021).

Ia asli orang Bandung. Saat dipindahtugaskan ke Aceh, saat itu Kopelma masih hutan. Awalnya ia tidak mau. Selain tempatnya masih kumuh, di Aceh juga saat itu masih dalam kondisi konflik.

Baca: Terkait Penggusuran Rumah Dosen, DPRA akan Surati Rektor USK

Tugas ke Aceh sebenarnya bukan keinginannya. Sebab saat itu tak ada orang yang ingin tinggal. Namun karena USK saat itu sangat membutuhkan tenaga pelajar, dengan lapang dada ia menerima.

Di USK sendiri ia mengajar Psikologi Sosial. Ia aktif melakukan penyuluhan ke desa-desa bersama mahasiswa saat itu. Untuk bisa tinggal di Aceh, saat itu Rektor Unsyiah Prof Ibrahim Hasan memberikan mereka rumah untuk ditinggali. Namun saat ini, oleh Rektor USK Samsul Rizal, ingin menggusur rumah di Sektor Timur untuk membanun Fakultas Hukum dan FKIP.

"Jadi rasanya say sudah banyak berbuat di USK, tapi tersia-siakan oleh USK," keluhnya.

Sama halnya dengan Pak Is. Ia dosen senior di Fakultas Teknik. Ia sudah tua renta dan hampir 49 tahun tinggal di Darussalam. Saat itu Rektor USK Ibrahim Hasan memanggilnya untuk membina perguruan tinggi tersebut awalnya.

"Dan sebagai fasilitas kami diberikan rumah oleh Rekor USK Ibrahim Hasan," ucapnya.

Ia juga bukan asli Aceh. Ia hanya tenaga pengajar yang mendedikasikan ilmunya untuk rakyat Aceh. Saat itu kata Pak Is, Ibrahim Hasan pernah mengatakan bahwa ia boleh tinggal disini hingga pensiun dan Ibrahim juga berjanji Jikapun setelah pensiun tetap bisa tinggal di rumah tersebut.

Tidak ada sedikitpun dikatakan bahwa tinggal sementara.  Baginya itu merupakan harapan. Namun saat ini, mereka yang tinggal di dusun timur diminta agar segera mengosongkan rumah.

"Dalam waktu sesingkat ini kami tidak mungkin bisa pindah . Kemana kami pindah?," tanyanya.

Komentar

Loading...