Unduh Aplikasi

Studi Banding Virtual Pemda Tingkat II, Ayo Mulai

Studi Banding Virtual Pemda Tingkat II, Ayo Mulai
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Human Hamid

Walaupun istilah studi banding ekselutif dan legislatif seringkali berkonotasi negatif, boros, tak bermanfaat, ajang plesiran, dan berbagai atribut buruk lainnya, hakekat yang sesungguhnya tidaklah selalu demikian.

Belajar tentang hal yang baru, good practices management pemerintahan, perluasan wawasan, dan tahu apa yang sedang terjadi di “luar” sana itu penting. Seburuk apapun studi banding tetap saja memperkaya pengalaman dan pegetahuan dan memperbaiki kapasitas pribadi orang yang menjalaninya.

Tudingan negatif yang selama ini sering bergema yang disuarakan oleh berbagai kalangan, terhadap studi banding eksekutif dan legislatif juga tidak salah - salah amat. Karena itu uang rakyat, jika trasparansi tujuan dan manfaat studi banding tidal jelas, apalagi tidak dikomunikasikan, maka wajar saja jika cibiran dan hujatan dan bahkan sumpah serapah publik bertaburan.

Bagaimana nasib dan masa depan studi banding selama dan pasca pandemi akan terjadi? Jawabannya, studi tetap ada, masih sangat diperlukan, bahkan lebih tinggi frekwensinya dari masa-masa yang telah lalu.

Hanya saja bentuknya studi banding telah berubah format. Jangan lagi berharap naik pesawat, jalan keluar Aceh, atau ke luar negeri, tidur di hotel berbintang, mencicipi sejenak kenikmatan setelah capek bekerja untuk rakyat. Kalau hal itu dulunya sesuatu yang rutin, saat ini dan ke depan nanti itu akan menjadi barang langka. Anggaran perjalanan tahunan kabupaten/kota dipastikan akan mengerucut deras mulai tahun anggaran 2021.

Ucapkan selamat tinggal untuk hal-hal yang seperti itu, dunia telah berobah. Covid-19 dan dunia digital telah merombak cara manusia berinteraksi, telah merombak ekonomi biasa menjadi ekonomi virtual, pendidikan biasa menjadi pendidikan virtual, kantor biasa menjadi kantor virtual, dan pemerintahan biasa menjadi pemerintahan virtual.

Saat ini kalau mau berjalan hanya untuk belajar dan melihat-lihat perkembangan tidak perlu lagi studi biasa seperti selama ini, karena ia telah berubah menjadi studi banding virtual. Saat ini kita tengah berada dalam sebuah masa pendahuluan perobahan peradaban, dan jangan pernah bermimpi, ulangi jangan pernah bermimpi, hidup kita setelah pandemi berakhir akan kembali sama seperti sebelum pandemi terjadi. Tidak akan pernah kembali lagi.

Mari kita ambil contoh yang paling anyar. Tidak ada pertemuan penting yang paling hebat di dunia selama ini kecuali pertemuan G20 dan G7. G20 adalah pertemuan fisik para pemimpin negara 20 ekoniomi terbesar di dunia, dimana Indonesia menjadi salah satu anggotanya. G7 adalah kelompok negera raksasa kekuatan dunia yang akan bersepakat untuk kehidupan dunia yang lebih stabil.

Baik pemimpin G20 maupun G7 selama ini selalu bertemu secara fisik dan selalu mempunyai makna substantif maupun simbol untuk kehidupan global. KTT G20 yang tuan rumahnya Saudi Arabia pada tanggal 26 Maret yang lalu tidak susah, cukup mengurus IT yang handal untuk menjadi tuan rumah pertemuan virtual para pemimpin dunia itu.

Presien Jokowi sendiri berada di Istana Bogor, dan mereka berbicara seperti rapat biasa saja. Banyak keputusan penting disepakati, sedikitpun tidak lebih enteng dari pertemuan sebelumnya. Summit G7 yang tuan rumahnya AS juga samimawon dengan G20, pertemuan virtual, online.

Apakah pertemuan seperti hanya sekali ini saja, atau akan terus berlanjut? Tidak ada kata putus, karena pandemi ini belum selesai urusannya, bahkan ketika ada vaksin sekalipun. Yang pasti kombinasi antara maraknya pandemi global dan cepatnya berkembang technologi digital akan merobah interaksi manusia mulai dari sesama angota keluarga sampai ke kalangan pemimpin negara adidaya sekalipun.

Di kalangan pejabat publik, saat ini saja sudan cukup banyak pembatasan perjalanan yang terjadi, baik karena kerumitan dengan urusan Covid-19, maupun karena aturan yang berlaku. Hampir dapat dipastikan ada sesuatu yang salah yang terjadi jika alokasi anggaran perjalanan pejabat publik tahun 2020 ini akan habis terpakai. Semua interaksi dengan berbagai lembaga vertikal atau horizontal kini semakin mengerucut kepada interaksi virtual. Padahal ini baru babak pendahuluan dampak Covid-19.

Dalam keadaan seperti ini yang diperlukan adalah kreativitas para kepala daerah dalam menyikapi keterbatasan akibat pandemi, dan kemudahan akibat semakin murah dan mudahnya tehnologi digital. Kalau memang studi banding dimaksudkan untuk melihat dan belajar tentang pengalaman orang atau tempat lain, maka cara yang paling murah, cepat, dan efektif adalah berkunjung kesana secepatnya tanpa berlama-lama.

Tidak perlu SPJ, tidak perlul tiket, tidak perlu booking kamar hotel dan tidak perlu penyiapan anggaran transportasi lokal. Cukup siapkan tim canggih sektor yang hendak diketahui, yang dibantu oleh keahlian tehnologi informasi untuk penelusuran awal. Instansi vertikal, horizontal, perusahaan, LSM yang telah teridentifikasi untuk dikunjung tinggal dikomunikasikan saja rencana kunjungannya, dan pasti akan dilayani.

Lihat saja sektor yang kelihatannya canggih kedengarannya, tetapi kini sudah dianggap remeh temeh dimana-mana dan biasa saja, seperti digitalisasi berbagai kegiatan dan edukasi Covid-19. Ini sesuatu yang sangat murah, mudah, memberikan dampak yang besar, namun memerlukan perhatian yang serius.

Membuat laman informasi dan edukasi dengan melibatkan ahli juga menjadi semacam “cambuk” 24 jam kepada instansi penanggung jawab, dan berbagai instansi terkait untuk tidak pernah berhenti bekerja. Kebingungan bagaimana membuatnya?

Kalau malas membayar konsultan, tinggal minta saja dinas Infokom dan dinas Kesehatan untuk studi virtual ke laman Covid-19 terhebat kabupaten-kota terhebat di Indonesia, bahkan di dunia sekalipun.

Ketika laman Covid-19 Pemda tingkat II berjalan yang akan terjadi adalah dinamisasi pengendalian pandemi yang akan memaksa para ASN yang bertugas untuk tidak ketiduran, apalagi tidur, karena Covid-19 harus diupdate setiap saat.

Kalau tidak ada kegiatan yang dilakukan apa yang mau diupdate? Kalau tidak rajin mencari informasi terbaru untuk edukasi masyarakat menghadapi pandemi apa yang mau disajikan? Kalau penyajian datanya tidak jujur apa yang akan terjadi?

Ini artinya dengan membuat laman Covid-19 kepala daerah lebih bisa mencurahkan waktunya untuk memikirkan hal hal lain yang juga tidak kurang pentingnya. Ia bisa memonitor setiap saat, dan kapan saja ada pertanyaan kalau hanya tentang informasi bisa dipersilakan ke laman Covid-19 pemda saja. Dan yang paling penting rasa percaya diri, tidal hanya kepala dearah, akan tetapi semi anak buahnya akan menjadi lebih tinggi.

Perkembangan terakhir, apa yang sedang dikerjakan, target dan capaian terakhir, berikut dengan apa yang akan dilakukan adalah hal yang harus terus menerus diperbaharui. Sebagai daerah yang baru memulai, “menjiplak” atau copy paste dari daerah lain yang sudah maju sah-sah saja hukumnya. Bukankah kehebatan AS dimulai dengan menjiplak Eropah, kehebatan Jepang menjplak Amerika, dan kehebatan Cina menjiplak AS dan Jepang.

Studi banding virtual tidak boleh berhenti hanya pada pesoalan laman Covid-19 saja. Ada hal lain yang juga tidal kurang kalah pentingnya semisal pengaturan pasar dan kedai kopi yang dapat beroperasi dan tunduk kepada prinsip-prinsip protokol Covid-19.

Seluruh pemain pasar mesti diberitahu bahwa kita akan agak lama dengan Covid-19, bisa dua tiga tabun, dan bukan tidak mungkin akan selamanya. Cobalah berkunjung secara virtual ke kedai kopi Shanghai, Singapore, Kuala Lumpur, dan lihat bagaimana mereka mengurangi kepadatan kedainya sampai dengan limapuluh persen.

Kursi dan meja ditata berjauhan, bahkan ada yang memakai pembatas kaca, dan ruangan AC yang pengap bahkan telah dibongkar. Ventilasi dan arus udara yang bergerak deras kini menjadi tema besar berbagai tempat dimana orang berkumpul dan bersoasialisasi. Setiap pengunjung masuk diperiksa temperaturnya, dan bahkan diberikan maskernya.

Tidak ada sektor yang paling memprihatinkan dan tergempur akibat Covid-19 selain dunia pendidikan. Milyaran murid, siswa dan mahasiwa di seluruh dunia kini tiba-tiba bermasalah dengan kelanjutan dan masa depan yang buruk. Beberapa daerah kreatif mengerahkan segala daya upaya untuk memastikan para anak didiknya dapat terus menjalani proses belajar mengajar secara virtual dengan baik dan berkualitas.

Cobalah berselancar ke seluruh daerah di Indonesia untuk membaca dan melihat secara virtual bagaimana murid SD, sisa sekolah menengah tetap terprogram dengan baik pendidikannya. Lihat pula bagaimana para guru yang gagap teknologi pendidikan diberikan kursus kilat darurat, sementara menunggu paket yang lebih kompleks tersedia.

Ada cukup banyak innovasi yang dapat dilakukan dalam berbagai sektor yang tidak mesti harus dikunjungi dan dipelajari dari tempat lain secara fisik. Yang paling penting sekarang adalah bagimana dengan cepat pemda membentuk sebuah divisi baru yang sifatnya adhoc yang menjadi dapur kreativitas untuk mencari cara mengatasi berbagai persoalan tanpa harus mengirimkan orang secara fisik kesebuah lokasi georafis tertentu.

Studi banding virtual ini mesti dilakukan secara terus menerus, kalau perlu meminta bantuan para pakar perguruan tinggi uituk mencari tahu apa yang sedang dikerjakan orang lain tentang berbagai innovasi tehnologi, ekonomi, sosial dan lain lain yang memungkin untuk diterapkan di masing-masing daerah. Karena, pada akhirnya dalam suasana pandemi yang sedang terjadi, keseragaman respon pembangunan seperti selama ini akan semakin berkurang.

Kemungkinan besar, pembangunan pasca pandemi akan lebih banyak ditentukan oleh berbagai inisiatif lokal. Jangan malu untuk studi banding virtual, awalnya mungkin imitasi berbagai program diberbagai sektor yang dilokalkan. Setelah waktu berjalan pasti akan diikuti oleh inovasi secara perlahan.

Penulis Adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala

Komentar

Loading...