Unduh Aplikasi

Ssst...Rahasia

Ssst...Rahasia
Ilustrasi: Monzo.

SEPULANG dari Mesir, saat itu 15 Mei 1998, Presiden Suharto masih tak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri 32 tahun kekuasaannya di negeri ini. Padahal mahasiswa mengepung Senayan, tempat anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Majelis Permusyawaratan Rakyat berkantor. Kantor-kantor pemerintahan dan bisnis lumpuh. 

Suharto masih merasa kuat. Dia masih berpikir banyak cara yang bisa diambil untuk meredam aksi demonstrasi yang melebar hingga ke seantero negeri. Dia masih merasa punya tangan untuk mengontrol tentara yang saat itu masih menjadi alat untuk menggebuk massa yang memprotes kepemimpinannya. 

Suharto juga punya pengalaman dalam meredam aksi mahasiswa di berbagai era. Sebagai seorang militer, dia paham betul cara menaklukkan musuh agar mau menuruti keinginannya cara yang dilakukannya sejak awal berkuasa di negara ini, baik dengan cara persuasif atau represif.

Sebagai seorang yang menganggap dirinya raja, tentu tak mudah bagi Suharto untuk menuruti permintaan mahasiswa untuk memberikan kekuasaan kepada pihak lain. Tidak kepada BJ Habibie, Wakil Presiden saat itu atau kepada Amin Rais yang tiba-tiba berdiri di depan ratusan ribu mahasiswa yang berunjuk rasa. 

Namun kerusuhan demi kerusuhan tak terbendung. Aksi demonstrasi mahasiswa bersambut dengan aksi penjarahan rakyat yang lapar. Sepultura: Sepuluh Tuntutan Rakyat, yang menggema, mulai dari urusan kekuasaan hingga pemisahan peran Angkatan Bersenjata Republik Indonesia menjadi murni sebagai organ pertahanan negara, adalah dirijen yang melantunkan himne reformasi. 

Suharto mungkin tak perlu jatuh dari kursi kekuasaan jika dia tidak mendengar “bualan” Harmoko. Menteri Penerangan dan Ketua Golongan Karya itu merayunya untuk tetap maju sebagai presiden, tiga bulan sebelum dia lengser. Saat itu, Suharto mafhum dirinya tak lagi diinginkan oleh rakyat. 

Di luar Istana Negara, kondisi semakin runyam. Kerusuhan mulai tak terkendali. Aksi penjarahan dan pemerkosaan warga keturunan Cina di mana-mana. Korban jiwa berjatuhan. Satu per satu punggawa Suharto mulai meninggalkan. Dia semakin kehilangan dukungan dari kawan-kawan yang menikmati keuntungan dari kekuasaan yang digenggamnya.

Namun Suharto juga manusia. Dia diberikan peringatan. Jika peringatan itu diabaikan, dia akan menjadi manusia yang tuli, buta dan bisu; summum, bukmum, umyun...fahum la yarjiun, dan dia memilih mendengarkan peringatan itu. Bisa saja dia menggunakan tentara--sebagai panglima besar, dia punya kekuasaan untuk mengendalikan ABRI--tapi Suharto memilih mundur hanya satu bulan setelah kepulangannya dari Mesir. Suharto hanya manusia biasa. Dia tak pernah tahu bentuk masa depan.

Komentar

Loading...