Unduh Aplikasi

Sri Radjasa Chandra Ungkap Fakta Terkait Dugaan Senjata Ilegal Mayjen (Purn) Soenarko

Sri Radjasa Chandra Ungkap Fakta Terkait Dugaan Senjata Ilegal Mayjen (Purn) Soenarko
Foto: Detik

JAKARTA - Mantan Perwira Pembantu Madya (Pabandya) bidang Pengamanan Komando Daerah Militer Iskandar Muda (IM) Kolonel Inf. (Purn) Sri Radjasa Chandra menyebut ada kejanggalan atas tuduhan penyelundupan senjata api ilegal kepada mantan Danjen Kopassus Mayjen (Purn) Soenarko

Hal itu disampaikan dalam konferensi pers bersama Kuasa hukum mantan Danjen Kopassus Mayjen (Purn) Soenarko dan sejumlah purnawirawan TNI di Jakarta.

Pada kesempatan itu Sri Radjasa mengungkap sejumlah fakta dan asal usul senjata yang a M4 yang dikatakan sebagai senjata sniper dan akan gunakan senjata tersebut untuk melakukan aksi penembakan pada 22 Mei 2019.

Berikut pernyataan lengkap Mantan Perwira Pembantu Madya (Pabandya) bidang Pengamanan Komando Daerah Militer Iskandar Muda (IM) Kolonel Inf. (Purn) Sri Radjasa Chandra.

Penting untuk diketahui bahwa keterangan saya ini, sama sekali tidak ada kaitan dengan urusan dukung mendukung pada Pemilu Capres 2019, tapi semata demi menjaga marwah dan martabat TNI serta sebagai klarifikasi atas pernyataan Pak Wiranto, Pak Moeldoko dan Pak Tito, menyangkut tuduhan terhadap Pak Sunarko yang diduga :
1. Melakukan penyelundupkan senjata M4 yang dikatakan sebagai senjata sniper .
2. Akan gunakan senjata tersebut untuk melakukan aksi penembakan pada 22 Mei 2019.

Mencermati pernyataan diatas, pikiran saya langsung melayang kepada sosok Pak Narko yang garang, namun tak sekalipun pernah saya lihat Pak Narko menghukum anak buahnya dengan kekerasan.
Fenomena diatas membuat saya merasakan ada yang janggal dari tuduhan kepada Pak Narko. Oleh karenanya perkenankan saya untuk menyampaikan fakta-fakta yang inshaAllah dapat meluruskan tuduhan yang ditujukan kepada Pak Narko.

1. Pada era awal kesepakatan damai Aceh, operasi penertiban senjata illegal terus dilakukan dengan pendekatan persuasive dan melibatkan berbagai elemen masyarakat maupun eks kombatan. Operasi tersebut berhasil membangun kesadaran masyarakat untuk menyerahkan secara sukarela senjata-senjata yang masih beredar di masyarakat, diantaranya pada tahun 2009 sinteldam IM menerima penyerahan 3 pucuk senjata laras panjang secara sukarela dari masyarakat di wilayah Aceh Utara. Saya saat itu menjabat Pabandya Pengamanan terlibat dalam penerimaan 3 pucuk senjata laras panjang yang terdiri dari 2 pucuk AK 47 dan 1 pucuk senjata M16A1 (Pendek). Kondisi 3 pucuk senjata tersebut sudah kurang layak untuk digunakan.

2. Temuan 3 pucuk senjata tersebut, kemudian oleh Sinteldam IM dilaporkan kepada Pangdam IM Mayjen TNI Sunarko. Arahan Pangdam IM agar 2 pucuk AK 47 dimasukan gudang dan 1 pucuk M16A1 disimpan di kantor Sinteldam IM, untuk keperluan tugas khusus dan rencananya Pangdam IM akan berikan kepada meusium Kopassus, mengingat beliau sebelumnya menjabat sebagai Danjen Kopassus.

3. Senjata M16A1 yang kemudian dimodifikasi pada bagian penutup laras dan popor serta dilengkapi teropong bidik (Reddot), kadang digunakan untuk pengawalan Pangdam IM saat kunjungan keluar kota. Pada akhir 2009, saat Mayjen Sunarko akan pindah tugas menjadi Dan Pussenif di Bandung, kondisi senjata kurang terawat dan teropong bidiknya rusak, atasperintah Pangdam IM agar senjata dimasukan dalam peti penyimpanan senjata.

4. Sekitar tahun 2018 Pak Narko pernah memerintahkan saya agar mengirim senjata tersebut ke Jakarta, karena akan diserahkan ke meseum Kopassus oleh Pak Narko. Namun karena saya sudah pindah ke Jakarta sehingga perintah tersebut tidak sempat dilaksanakan.

5. Perintah untuk mengirim senjata ke jakarta juga disampaikan oleh Pak Narko kepada Heri (seorang TBO yang selama ini membantu Mayjen Sunarko sehari-hari di Aceh). Pak Narko juga mengarahkan Heri agar sebelum mengirim senjata tersebut, dilaporkan kepada Kasdam IM Brigjen Daniel untuk dibuatkan surat pengantar.

6. Pada tanggal 15 Mei 2019, senjata M16A1 modifikasi dikirim (mengikuti standar prosedur pengiriman) ke Jakarta menggunakan Garuda dari Aceh sekitar pukul 16.30,(pengirim An Letkol Aji) dengan dilengkapi surat pengantar dari Brigjen Purn Sunari. Namun setiba di Bandara Sutta, saat ditanya petugas Apsec Letkol Aji tidak merasa membawa senjata tersebut dan Sunari mengklaim bahwa surat pengantar tersebut palsu.Akibat dari hal diatas, mengakibatkan senjata tersebut dinyatakan sebagai barang selundupan dan illegal.

KESIMPULAN :
1. Senjata yang dikirim dan kemudian di duga sebagai senjata Pak Narko adalah jenis M16A1, bukan jenis M4 maupun senjata sniper, sebagaimana yang dinyatakan oleh Pak Wiranto, Pak Moeldoko dan Pak Tito.

2. Mencermati prosedur pengiriman senjata dengan mekanisme standar, maka tidak ditemukan adanya praktek penyelundupan.

3. Senjata M16A1 yang dikirim ke Jakarta adalah senjata hasil operasi di Aceh, sehingga tidak dapat dikatakan sebagai senjata illegal.

4. Rencana pengiriman senjata tersebut sudah disampaikan oleh Pak Narko sejak setahun lalu, bukan rencana yang muncul menjelang 22 Mei 2019, hal ini menepis tuduhan bahwa sunarko akan gunakan senjata tersebut untuk melakukan penembakan pada 22 Mei 2019.

5. Senjata M16A1 dengan kondisi tidak terawat dan rusak alat bidiknya, secara teknis tidak memenuhi syarat untuk digunakan sebagai senjata sniper.

 

Komentar

Loading...