Unduh Aplikasi

Soroti Dana Hibah Rp 9,5 Miliar, Jang-Ko: Tidak Berpihak pada Petani Kopi

Soroti Dana Hibah Rp 9,5 Miliar, Jang-Ko: Tidak Berpihak pada Petani Kopi
Ketua Divisi Kebijakan Publik dan Anggaran Jang-Ko, Saradi Wantona. Foto: IST.

TAKENGON - Jaringan Anti Korupsi Gayo (Jang-Ko) menyoroti realisasi belanja dana hibah tahun anggaran 2020 yang diperuntukkan kepada lembaga non nirlaba yang jumlahnya mencapai Rp 9,5 Miliar. Tapi sama sekali tidak menguntungkan masyarakat di akar rumput (grass root), khususnya petani kopi.

Ketua Divisi Kebijakan Publik dan Anggaran Jang-Ko, Saradi Wantona menilai peruntukkan dana Bansos tersebut tidak memiliki skala prioritas sebagai biaya penanggulangan Covid-19 yang telah mendera wilayah Indonesia khususnya Aceh selama 10 bulan terakhir. Sebab, dari 100 lembaga penerima bantuan hibah tersebut tidak tepat sasaran.

“Jang-Ko menilai kucuran dana yang besar itu tidak akan berdampak pada penguatan ekonomi masyarakat Aceh, hanya program populis yang tidak efeketif sama sekali," ujar Saradi kepada AJNN di Takengon.

Menurut Saradi stimulus bantuan hibah yang kerap dikucurkan, belum pernah benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat kecil.

Dengan adanya informasi realisasi dana hibah yang telah dikucurkan oleh pemerintah Aceh pada tahun 2020 ini, membuktikan bahwa pemerintah Aceh tidak pernah serius dalam menangani dan mengatur kepentingan masyarakat luas.

“Bagi kami pemerintah Aceh abai dan tidak peduli pada kepentingan masyarakat bawah karena bansos yang dibagikan tidak memiki sasaran yang jelas,” ujar Saradi.

Sebagai contoh kasus, kata Saradi, di wilayah Tengah Aceh, yakni, Aceh Tengah, Bener meriah, dan Gayo Lues yang merupakan sentra penghasil kopi . Tapi mengalami paceklik yang berat dengan merosotnya harga kopi sejak pandemi Covid-19 melanda dunia. 

Seharusnya menurut Saradi, Pemerintah Aceh melihat persoalan ini dengan serius dan memberikan stimulus pembiayaan untuk membantu petani-petani kopi di wilayah Tengah Aceh.

“Sekarang ini harga kopi anjlok nyaris 60 persen, pendapatan masyarakat menurun drastis, daya beli masyarakat menurun hampir kita temui di setiap wilayah,” ujarnya.

"Sampai saat ini kejelasan terhadap skema bantuan untuk petani-petani di wilayah Tengah hanya sebatas omong kosong belaka dan tidak pernah ada realisasinya," ujar Saradi menambahkan.

Berdasarkan data yang dirilis dari situs setda acehprov, jumlah masyarakat petani yang memiliki usaha perkebunan kopi ditaksir mencapai 78.624 KK yang tersebar ditiga Kabupaten yakni, Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues. Dengan luas lahan mencapai 101.473 Ha dengan total produksi sebanyak 61.761 ton per tahun atau dengan rata-rata produksi 773 ton/hektar.

Dari data yang tersedia, jumlah produksi kopi untuk wilayah Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah adalah 66,249,275 ton/tahun. Dengan perkiraan produksi sebanyak 5.520,77 ton.

Estimasi realisasi berdasarkan data dinas perdagangan Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dalam kurun Januari-April 2020 sebanyak 22,083 ton. Sedangkan belum terealisasi yang dihitung dari bulan Mei-Desember 2020 adalah sebanyak 44,160 ton.

Untuk diketahui pemerintah Aceh membagikan dana hibah melalui keputusan Gubernur Aceh No 426/1675/2020 Tentang Penetapan Penerima dan Besaran Dana Hibah Kepada Badan Lembaga/Organisasi Swasta Dalam Rangka Penanganan Corona Virus Disease 19 Provinsi Aceh Tahun 2020 sebanyak Rp. 9.597.000.000. 

RAZIKIN AKBAR

Komentar

Loading...