Unduh Aplikasi

Smartphone, Smart Generation 

<i>Smartphone, Smart Generation</i> 
Foto: Ist

Oleh:Nelliani, M.Pd 

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah artikel yang dimuat pada situs media Islam online. Dalam artikel tersebut, dijelaskan seorang muslimah cerdas mampu memanfaatkan smartphone untuk mengasah kecedasannya. Ada banyak kecerdasan yang dapat diraih dari alat bantu ini antara lain, cerdas intelektual, cerdas secara ekonomi dan melalui smartphone para muslimah dapat menemukan komunitas baik yang senantiasa mengingatkan pada ketaatan. Oleh karena itu, pada tulisan berikut penulis tertarik mengkaji dari sudut pandang generasi muda terutama pelajar, bagaimana peserta didik memanfaatkan ponsel pintar sebagai bekal menuju generasi cerdas di masa depan.

Pandemi covid-19 telah mempercepat transformasi dunia pendidikan melalui bantuan teknologi. Jika sebelumnya, proses pembelajaran dilaksanakan secara tatap muka antara siswa dengan guru dalam ruang-ruang kelas. 

Namun, setelah pandemi menerjang kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring melalui interaksi di kelas-kelas digital. Keberadaan smartphone dengan beragam perangkat teknologi lainnya dinilai berperan penting dalam menunjang terlaksananya proses pembelajaran berkonsep digital selama pandemi. Sejak saat itu, smartphone telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan pelajar dan generasi muda sekarang ini.

Smartphone (telepon pintar) adalah telepon genggam yang memiliki kemampuan multiguna, terkadang dengan fungsi yang menyerupai komputer. Smartphone dilengkapi fitur-fitur canggih yang memanjakan penggunanya dalam berbagai aktivitas yang memudahkan. Sebagaimana sebutannya, sejatinya perangkat ini mampu mengantarkan para penggunanya menjadi individu-individu yang cerdas dan terampil. Terlebih, jika ponsel pintar itu dioperasikan dan berada di bawah kendali seorang pelajar, sudah seharusnya alat tersebut senantiasa didayagunakan untuk mengembangkan potensi serta kecerdasan diri. 

Ragam Kecerdasan

Peserta didik dapat meningkatkan ragam kecerdasan melalui pemanfaatan perangkat teknologi smartphone. Sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, bahwa suatu proses pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan intelektual, spiritual serta kecerdasan emosional peserta didik. 

Maka keberadaan smartphone juga sepatutnya diarahkan sebagaimana tujuan dimaksud. Peserta didik dapat memanfaatkannya sebagai media pembelajaran berbasis teknologi informasi yang lebih interaktif, kreatif sekaligus menyenangkan sehingga membantu meningkatkan aneka kecerdasan tersebut.
    
Dalam upaya mengasah kecerdasan intelektual, kecanggihan smartphone memberikan nilai tambah pada proses pembelajaran. Hal ini berkaitan dengan semakin tingginya kebutuhan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi bagi peserta didik yang tidak semuanya diperoleh dan tersedia dari guru dan lingkungan sekolah. 

Peserta didik dapat menjadikan smartphone sebagai sumber belajar, perpustakaan digital atau aplikasi belajar untuk mengakses segala informasi belajar dengan mudah, murah, dan dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Demikian juga, konsep smart school yang lebih memberdayakan potensi siswa dimana sistem pembelajaran berorientasi student centered dapat dengan mudah diwujudkan.

Sebagai media komunikasi, kehadiran smartphone memperlancar komunikasi antara peserta didik, guru dan orang tua. Hal ini menjadi penting mengingat komunikasi yang terbangun baik antara guru dan orang tua dapat meningkatkan keberhasilan belajar peserta didik. 

Guru akan dengan mudah berbagi informasi mengenai kemajuan belajar, hambatan maupun permasalahan yang dihadapi siswa di lingkungan sekolah kepada pihak orang tua. Di sisi lain, orang tua juga dapat mengontrol kegiatan anaknya serta mengevaluasi perkembangan belajar mereka selama di sekolah. 

Kemajuan teknologi informasi sekarang ini mengakibatkan konsep dakwah berkembang secara pesat dan dinamis. Peserta didik dapat memanfaatkan kehadiran dakwah-dakwah digital yang mudah diakses melalui akun media sosial dan channel youtube untuk memperkaya pengetahuan spiritualnya. 

Ada banyak kajian ilmu yang tersedia seperti fiqih sehari-hari, adab, akhlak, sejarah-sejarah Islam, ilmu tauhid maupun ilmu bacaan Alquran dan lainnya. Hanya saja untuk keberkahan ilmu, ada baiknya guru atau orang tua membimbing mereka dalam memilih kajian- kajian dakwah dari ustad yang memiliki kapasitas dalam penguasaan pengetahuan keagamaannya. 

Menurut para ahli, kecerdasan spiritual merupakan kecerdasaan seseorang dalam berhubungan dengan Penciptanya. Asumsinya adalah jika seseorang berhubungan dengan Penciptanya baik, maka bisa dipastikan kualitas hubungan dengan sesama manusia dan alam sekitar akan baik juga. Dalam konteks pembelajaran, kecerdasan spiritual akan mengantarkan peserta didik pada sifat-sifat dan perilaku terpuji, seperti rajin beribadah, saling menghormati, disiplin, jujur, memiliki control diri yang baik, sopan santun dan sebagainya. Kecerdasan spiritual perlu ditanamkan sejak dini sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi persoalan hidup yang berpijak pada nilai-nilai spiritual atau agama yang diyakini. 
    
Selanjutnya, peserta didik diharapkan cerdas menggunakan smartphone dan alat teknologi lainnya untuk mengasah keterampilan emosionalnya. Kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain. 

Banyak sekali komunitas di media sosial baik di grup- grup whatsapp, facebook, instragram dan lainnya dengan beragam tujuan dan visi misinya. Seorang pelajar hanya perlu kehati-hatian memilih komunitas yang sehat, positif serta sesuai keinginan untuk membantu perkembangan potensi emosionalnya.
    
Misalnya saja, bergabung dengan komunitas yang sering berbagi pengalaman hidup dan kisah-kisah inspiratif. Ketika anak mengetahui hal tersebut, bisa menjadi proses untuk membelajarkan jiwanya, dia akan termotivasi melakukan kebaikan-kebaikan, baik pada diri sendiri maupun terhadap orang lain. 

Demikian juga, kisah-kisah sederhana namun sarat makna akan mendorong jiwa anak untuk lebih berempati terhadap sesama, lebih bisa menghargai perbedaan, bisa bekerja sama serta membuatnya menjadi pribadi yang bersahabat. 
    
Sayangnya, sangat sedikit para generasi milenial dewasa ini mampu mencerdaskan dirinya meskipun alat paling canggih ada dalam genggaman. Bukan hal aneh jika kita mendapati banyak dari pelajar menghabiskan waktu dengan selfi- selfi dan ber-tik tok ria. 

Ada juga yang hobynya memproduksi hoaks, suka membuat ujaran kebencian dan menyebarkannya, sehingga muncul kegaduhan di sana sini yang berpotensi merusak persatuan dan memecah belah. Dilain kesempatan, kita disuguhi berita-berita tentang remaja dan pemuda kecanduan game online, terlibat pesta narkoba atau tertangkap karena prostitusi online. 
    
Generasi muda khususnya remaja dan pelajar adalah kelompok yang paling aktif di era kemajuan teknologi digital. Anak-anak muda ini terampil, mudah menguasai dan familiar dengan teknologi tersebut. Smartphone hanyalah sebuah alat yang hari ini hampir semua dari mereka memilikinya. 

Oleh karena itu, perlu bimbingan, arahan dan kepedulian guru, orang tua serta lingkungan untuk menjadikan mereka sebagai smart generation melalui sebuah smartphone dalam genggaman. Minimal mampu memanfaatkan perangkat tersebut secara efektif sesuai fungsinya untuk meningkatkan potensi diri dan pada hal-hal positif bagi lingkungannya. 

Penulis adalah Guru SMA Negeri 3 Seulimeum, Aceh Besar

 

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...