Unduh Aplikasi

Sita batu giok 20 ton, Pemda dinilai ikut rusak hutan lindung

Pemerintah daerah dinilai telah ikut berkontribusi merusak hutan lindung setelah menyita batu giok 20 ton yang berada di kawasan hutan lindung di Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya.

“Saat mengambil batu giok 20 ton itu berapa pohon yang rusak, berapa banyak tanah yang harus digali. Artinya perintah telah melanggar Undang-undang RI No 41/1999 tentang Kehutanan,” kata Nyaksih Phaisal, Dewan Daerah Walhi Aceh, Rabu (4/3/2015).

Nyaksih Phaisal menambahkan, seharusnya Pemerintah Nagan Raya membiarkan batu giok 20 ton yang ditaksir harganya mencapai Rp 30 miliar itu berada dalam kawasan hutan lindung, lalu menjadikannya sebagai monumen atau lokasi objek wisata batu giok Aceh sehingga kelestarian hutan lindung tetap terjaga.

“Kenapa harus dipindahkan, kalau dijadikan lokasi wisata mungkin lebih dari Rp 30 miliar pendapatan daerah hasil kunjangan wisata, ekonomi masyarakat pun meningkat ” ujarnya.

Nyaksih Phaisal khawatir akan terjadi bencana banjir atau longsor akibat maraknya para pemburu batu giok di kawasan hutan lindung yang semakin meningkat.

“Pemerintah harus membuat regulasi tentang pencari batu di hutan lindung. Jangan menghalalkan merusak hutan lindung karena alasan ekonomi masyarakat,” katanya

KOMPAS

Komentar

Loading...