Unduh Aplikasi

Siswa di Banda Aceh Masih Belajar dari Rumah

Siswa di Banda Aceh Masih Belajar dari Rumah
Ilustrasi. Foto: Net

BANDA ACEH - Sempat ditetapkan sebagai zona merah Covid-19 beberapa waktu lalu, kini Banda Aceh kembali masuk dalam zona kuning. Meski demikian, proses belajar mengajar bagi siswa di ibu kota Provinsi Aceh itu belum bisa dilaksanakan secara tatap muka, atau tetap belajar dari rumah.

Ketentuan tersebut sesuai dengan keputusan bersama Dinas Pendidikan Aceh dan Kanwil Kemenag Aceh. Dimana, dalam Bab IV pasal 8 disebutkan, satuan pendidikan yang berada di zona hijau dapat melakukan pembelajaran tatap muka, sedangkan wilayah zona kuning, orange dan merah dilarang belajar secara tatap muka atau tetap melanjutkan belajar dari rumah.

Terkait hal itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh, Saminan Ismail mengatakan, tahun ajaran 2020/2021 mulai berjalan hari ini, Senin, 13 Juli 2020. Tetapi peserta didik dari semua jenjang di Banda Aceh tetap belum bisa belajar secara tatap muka.

"Untuk Banda Aceh, kita mengikuti aturan yang telah ditetapkan pemerintah, sekolah dimulai pada 13 Juli 2020 dengan tahun ajaran baru 2020/2021. Sistem belajarnya tidak tatap muka secara langsung, maka anak-anak tetap belajar dari rumah," kata Saminan Ismail kepada AJNN, Minggu (12/7).

Saminan menyampaikan, berdasarkan hasil evaluasi belajar dari rumah yang telah dilakukan, ternyata belajar secara daring banyak menimbulkan persoalan, diantaranya kebingungan orang tua, banyak menghabiskan paket internet, dan tidak senyawanya komunikasi antara murid, orang tua dan gurunya.

"Untuk mengantisipasi hal itu, pada tahun ajaran baru ini kita membuat sistem baru di Banda Aceh, yang disebut dengan orang tua menjadi guru kedua," ujarnya.

Saminan menuturkan, pihaknya sudah memanggil semua wali murid untuk menyepakati pengembangan sistem pengajaran dari rumah, salah satunya pengurangan paket belajar.

Kesepakatan itu, kata Saminan, sistem pengajaran di masa pandemi corona ini, kurikulumnya tidak dilaksanakan 100 persen, melainkan cukup 50 hingga 60 persen.

"Misalkan, dalam buku paket ada sepuluh bab, mungkin yang diajarkan hanya lima bab saja. Jadi orang tua dijadikan guru kedua, supaya nanti guru pertama di sekolah bisa berkomunikasi dengan guru kedua yakni orang tua murid," ucapnya.

Saminan menjelaskan, dengan penerapan sistem pengajaran tersebut, maka tugas orang tua wajib menjadi guru kedua, dan harus mendampingi anak sesuai dengan kesepakatan serta perintah dari guru pertama di sekolah.

"Kalau guru kedua banyak pekerjaan, maka disepakati mana saja orang tua yang bisa mengajar anaknya saat jam pagi, siang hari, dan waktu malam hari," ujarnya.

Kemudian, kata Saminan, para orang tua sebagai guru kedua juga diberikan tanggungjawab membuat kesimpulan hasil dari proses belajar mengajar, setelah itu memberikan laporannya kepada guru pertama setiap pekan.

"Laporan dari orang tua kepada guru pertama harus diberikan dalam seminggu sekali. Kita berharap nantinya setiap minggu dilaporkan, baik melalui telepon, rekaman video atau melalui E-belajar,"

Saminan juga mengatakan, jika orang tua murid mendapatkan persoalan dalam proses mendampingi anak, maka bisa langsung menghubungi guru pertama, atau datang langsung ke sekolah.

"Kalau ada masalah dalam mendampingi, orang tua bisa langsung menelpon atau datang ke sekolah. Guru pertama stand by di sekolah," tutur Saminan.

Komentar

Loading...