Unduh Aplikasi

INTERMESO

Singgasana Raja dalam Lindungan Maop

Singgasana Raja dalam Lindungan Maop
ilustrasi

DI tengah keterasingannya, seorang raja yang kalah bingung. Dia ingin sekali kembali ke kerajaan yang pernah memberikannya semua impian anak manusia. Kuda-kuda yang bagus, istri dan selir yang bertebaran, dan makanan melimpah.

Namun semua impian itu tak mungkin didapat. Dia hanya memiliki sejumlah prajurit setia yang tak terlalu bisa diandalkan. Bahkan untuk memanah saja, mereka kesulitan, karena badan para prajurit penuh dengan luka. Mata mereka pun terluka karena terlalu banyak melihat darah.

Si raja sendiri juga tak punya modal lain. Hartanya habis mengongkosi pelarian. Kini hanya ada baju compang camping dan pedang yang tak lagi tajam. Emosinya yang labil membuat banyak prajurit dan dayang-dayang, yang dulu memenuhi istananya, meninggalkannya.

Di sekitar istana, para hulubalang yang muak hidup miskin, setelah terbuang dari istana, juga kerabat kerajaan juga mulai menyusun kekuatan. Andai pun dia memiliki prajurit yang kuat, tentu tak mudah menghadapi orang-orang yang juga berhasrat menduduki tahta kerajaan itu. Si raja akan berhadapan dengan bekas hulubalangnya.

Syahdan pada suatu ketika, di balik sebuah kandang lembu, raja bertemu dengan maop. Makhluk halus ini melihat kegundahan raja dan menawarkan bantuan yang dibutuhkan. Maop--makhluk halus--yang menyamar sebagai seorang perempuan tua itu menjanjikan raja kembali ke singgasananya.

Raja yang mulai kalap, karena tak sanggup lagi menahan derita hidup, akhirnya mendengarkan tawaran tersebut. “Kau akan kukembalikan sebagai raja. Tapi kau harus memberikanku imbalan,” kata maop. Si raja mengangguk cepat. Entah karena senang atau reneng.

“Kau harus menenuhi 18 tuntutanku.” Raja kembali mengangguk; setuju, meski dia tak terlalu yakin dengan kemampuan untuk memenuhi 18 janji itu. Salah satu permintaan itu adalah raja harus merekrut sebanyak-banyaknya rakyat untuk tunduk kepada maop.

Maop, dengan kemampuan propaganda yang hebat, dalam sekejap mengembalikan singgasana kepada raja. Namun anehnya, raja yang dulu dikenal sebagai sosok yang rendah hati berubah menjadi arogan. Dia menjadi lebih marah. Dalam sekejap pula, raja yang bijaksana berubah menjadi lalim.

Segala kebijakan yang diambilnya kini tak lagi berpegang pada kepentingan rakyat. Baginya, kini, titah maop harus dituruti. Karena hanya dengan cara ini kekuasaannya bisa bertahan. Namun menjadikan sebanyak-banyaknya rakyat dalam legion maop tentu tak mudah. Entah apa jadinya nasib raja, bila tak mampu memuaskan hati maopnya.

Komentar

Loading...