Unduh Aplikasi

Sikit-sikit Bakar

Sikit-sikit Bakar
ilustrasi
KERUSUHAN di penjara kembali terjadi. Kali ini di Aceh Tamiang. Ratusan penghuni rumah tahanan Kuala Simpang mengamuk; marah. Mereka menghancurkan apa saja. Bahkan tak ragu membakar ruangan kantor pegawai. Pasalnya: protes atas sikap kepala lembaga pemasyarakatan yang dianggap keras dan arogan kepada narapidana.

Ujung dari unjuk rasa ini adalah desakan mundur kepala lapas, Tri Budi Haryoko. Tri dituding mengeluarkan kata-kata tidak pantas kepada narapidana yang mengantarkan istrinya buang air kecil. Sebuah kesalahan kecil yang berujung pada amuk yang mungkin lama terpendam.

Kejadian ini tak lama berselang dari kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan kelas Lambaro, Aceh Besar. Kepala Kantor Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Aceh bahkan langsung mencopot Kalapas Lambaro sebagai jawaban atas tuntutan narapidana yang gerah dengan sikap kapalas.

Namun hendaknya ada investigasi resmi di setiap kerusuhan di lembaga pemasyarakatan (rumah tahanan). Karena bukan rahasia bahwa kini lembaga pemasyarakatan menjadi sebuah "markas besar" pengedar narkotika dan obat-obatan terlarang. Mereka dengan mudah mengendalikan bisnis dari dalam bilik penjara. Karena semua tersedia. Dari telepon genggam hingga senjata tajam.

Para narapidana ini dengan mudah menguasai blok demi blok penjara karena kekuatan uang yang mereka miliki. Tak jarang mereka juga mengendalikan sipir dengan iming-iming narkoba dan uang. “Membeli” narapidana lain untuk menjadi pengawal. Bahkan dengan mudah mereka keluar masuk dari lapas dengan upeti yang cukup kepada para "penguasa" lapas.

Rumah tahanan adalah permasalahan kompleks. Mulai dari air bersih, fasilitas kamar, hingga keamanan para sipir dan kesejahteraan mereka. Inilah kelemahan yang empuk bagi para mafia narkoba. Mereka dengan mudah mengendalikan kondisi ini. Dan ini terjadi di hampir seluruh penjara di Indonesia.

Para narapidana akan sangat berkeberatan jika memiliki kepala lembaga pemasyarakatan yang disiplin dan enggan memberikan kelonggaran terhadap aktivitas para mafia yang keenakan dalam tahanan. Lantas, para mafia merancang skenario untuk menjatuhkan si pimpinan. Cara mudah: cukup “bakar” narapidana lain, dan tuntut si kepala dicopot.

Hanya investigasi menyeluruh yang mampu menjawab sengkarut di Aceh Tamiang dan lapas-lapas lain di Indonesia. Ini untuk melindungi marwah lembaga pemasyarakatan kian hari kian terpuruk. Hal ini juga untuk melindungi para kepala lembaga yang benar-benar bekerja untuk negara, bukan mafia. Kalau ini tidak dilakukan, upaya membersihkan lapas dari jaring mafia narkoba akan sia-sia.

Komentar

Loading...