Sikat Habis Predator Seksual

Sikat Habis Predator Seksual
Ilustrasi: Liveway Research.

DEWAN Perwakilan Rakyat Aceh mengusulkan penambahan anggaran pada Dinas Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Aceh. Wakil Ketua DPRA, Hendra Budian, mengatakan dinas itu perlu anggaran besar untuk menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Aceh.

Ketersediaan anggaran memang menjadi hal penting. Apalagi selama ini pihak-pihak terkait mengklaim dana yang ada tidak mencukupi untuk menangani korban-korban kekerasan terhadap perempuan dan anak itu. 

Apalagi ada banyak hal yang harus diurusi. Seperti seperti perlindungan anak terlantar, kesejahteraan dan perlindungan hukum terhadap mereka. Mudah-mudahan penambahan anggaran ini dapat menjadi stimulus untuk memuluskan kerja-kerja pihak terkait dalam melindungi perempuan dan anak. 

Namun yang tak kalah penting adalah upaya DPR Acen Pemerintah Aceh merevisi pasal-pasal yang selama ini menjadi titik lemah penegakan hukum dalam Qanun Jinayah. Tanpa perbaikan, para predator seksual ini tidak akan kapok dan akan semakin berani bertindak. 

Selama ini, Qanun Jinayah hanya dipakai untuk meringankan hukuman. Mereka yang bersalah karena melanggar lebih memilih qanun ketimbang hukuman kurungan yang ditetapkan dalam hukum positif. 

Pilihan ini sangat logis. Ketimbang mereka dikurung dalam penjara, lebih baik mereka dicambuk. Sakitnya tidak seberapa. Sedangkan rasa malu, mungkin hanya sebentar. Karena orang-orang akan melupakan kejadian itu. 

Harusnya hukum jinayah membuat para predator seksual ini tidak berani macam-macam. Bahkan jika perlu, revisi Qanun Jinayah itu memuat pasal tentang kebiri. Tidak usah terlalu mendengarkan kritik dan tekanan dari luar negeri tentang pelanggaran hak asasi manusia. Karena tindakan para predator seksual itu lebih biadab.

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini