Unduh Aplikasi

INTERMESO

Sikap Ksatria Mawardi

Sikap Ksatria Mawardi
Ilustrasi; wall maiden

MAWARDI Ali mencoba bersikap bak ksatria. Kali ini adalah urusan “akal-akalan” menurunkan pajak. Menurut Bang Awee, pengakuan Bupati Aceh Besar itu harus diapresiasi. Tak banyak pejabat yang berani mengakui kesalahan. Apalagi menyebut dirinya koruptor.

“Siapa sih yang mau bayar pajak. Tak ada satupun orang normal yang mau bayar pajak. Apalagi, banyak uang pajak dikorupsi,” kata Bang Awee, kemarin sore. “Semua ini terpaksa dilakukan. Lain ceritanya kalau zakat atau sedekah.”

Namun saat “pengakuan dosa” itu dilakukan di hadapan publik, tentu saja harus ada konsekuensi. Seperti yang disampaikan oleh Koordinator Gerakan Anti Korupsi Aceh Askhalani bin Muhammad Amin, Mawardi harus mengembalikan kerugian keuangan negara dampak dari perbuatannya dulu.

Mawardi mengaku menurunkan harga jual tanah agar terbebas dari pajak. Karena pernyataan ini diungkapkan di hadapan pejabat Badan Pertanahan Negara, hal ini lantas dianggap sebagai lelucon. Padahal, dalam aturan bernegara, ini adalah pelanggaran serius.

Meminjam istilah Askhalani, langkah Mawardi dianggap kejahatan karena secara sengaja memperkaya diri untuk menghindari pajak penjualan tanah.

“Tapi biasanya, kalau kita mengakui atau mengungkapkan sebuah kejahatan, pasti ada kejahatan lain, yang sifatnya lebih besar dan memalukan, yang pernah kita lakukan,” kata Bang Awee.

Sudah menjadi watak manusia untuk dianggap baik dengan menceritakan kejahatan di masa lalu. Namun itu hanya pada batas-batas yang bisa diterima oleh si pendengar. Adapun kejahatan lain, yang lebih besar dampaknya, akan tetap ditutup-tutupi karena dianggap aib.

“Makanya kita tidak boleh langsung percaya terhadap pernyataan seseorang. Karena semua itu pasti ada maksudnya. Ada yang mengatakan ini, padahal maksudnya itu,” kata Bang Awee.

Lantas bagaimana Mawardi? Urusan ini, Bang Awee menyarankan agar Mawardi tidak perlu mengembalikan uang tersebut. Mungkin, sebagai gantinya, Mawardi harus melakukan kerja sosial dengan bekerja membersihkan jalan 100 kilometer atau membersihkan kamar mandi di 100 masjid di Aceh Besar.

Apapun namanya, “pengakuan dosa” Mawardi itu harus dibarengi dengan ketaatan Mawardi untuk menerima konsekuensi korupsinya. “Itu baru ksatria,” kata Bang Awee.

Komentar

Loading...