Unduh Aplikasi

Sidang Kasus Calon PNS, Saksi Sebut Kirim Uang ke Maimun Rp 100 Juta

Sidang Kasus Calon PNS, Saksi Sebut Kirim Uang ke Maimun Rp 100 Juta
ARB disumpah sebelum memberikan keterangan saksi. Foto: AJNN.Net/Muksalmina

PIDIE JAYA - Korban penipuan calo Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Aceh, mengakui terdakwa Maimun Musa menawarkan pekerjaan dengan iming-iming lulus sebagai PNS.

“Sekitar awal April 2017, Maimun menghubungi saya dan menawarkan saya pekerjaan sebagai PNS di pemprov,” kata salah seorang korban yang berinisial ARB sebagai saksi dalam sidang pemeriksaan saksi dalam kasus penipuan calo PNS, di Pengadilan Negeri (PN) Pidie Jaya, Rabu (26/6).

ARB mengaku sempat menolak tawaran dari Maimun, karena saat itu korban tidak memiliki besaran uang yang harus dipenuhi yakni Rp 100 juta. Namun karena Maimun terus meyakinkan korban, sehingga ARB terenyuh dengan ajakan terdakwa.

“Saya masuk PNS itu, dengan menjual tanah (sawah) saya. Saya melalui makcik saya kirim dua tahap ke rekening Maimun Rp 50 juta pertahap. Maimun juga meyakinkan saya, dia juga yang menyarankan saya untuk menjual sawah, kalau itu penipuan kata dia, maka dia akan membayar uang saya dua kali lipat,” jelasnya.

Baca: Sidang Pemeriksaan Saksi, Jaksa Belum Bisa Pastikan Muhammad Sabik Hadir

Dalam perjalanan, Maimun meminta korban untuk menanyakan status CPNS itu ke Muhammad Sabik, yang kemudian ARB memperoleh SK palsu dari Muhammad Sabik.

“SK palsunya Muhammad Sabik yang kasih ke saya di warung kopi SMEA Banda Aceh,” sebutnya.

Muhammad Sabik yang dijadwalkan dihadirkan dalam persidangan, tetapi yang bersangkutan tidak dapat dihadirkan. Namun Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Pidie Jaya mendapat izin dari majelis hakim untuk membacakan keterangan saksi Muhammad Sabik walaupun mendapat keberatan dari terdakwa dan penasehat hukumnya.

Dalam keterangan itu, Muhammad Sabik mengaku pernah menerima sejumlah uang dari Maimun untuk pengurusan PNS. Besaran uang yang diterima adalah Rp 50 juta dan Rp 50 juta. Sedangkan uang yang diminta untuk pengurusan Anita Selfitri (korban) adalah Rp 50 juta, tetapi terdakwa hanya mengirim Rp 25 juta.

Dalam keterangan tersebut, Muhammad Sabik juga menyebutkan, korban yang diurus Muhammad Sabik atas permintaan Maimun sebanyak 19 orang.

Komentar

Loading...