Unduh Aplikasi

Siapa Suruh Masuk Salon

Siapa Suruh Masuk Salon
Ilustrasi: dreamstime.

MUDAH-mudahan petugas Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (WH) Aceh Tamiang sedang salah melangkah saat masuk ke sebuah salon dan mendapati pekerja di salon itu tanpa hijab dan berpakaian ketat. Tapi sepertinya tidak.

Kemarin petugas memang berniat masuk ke dalam sejumlah salon untuk menindaklanjuti laporan masyarakat. Laporan itu menyebutkan keberadaan pekerja di dalam salon tidak berjilbab dan mengenakan pakaian ketat. Tidak tanggung-tanggung, petugas mendatangi empat salon yang diduga melanggar syariat di Kuala Simpang. Total 20 perempuan yang bekerja di empat salon tersebut. 

Memang mereka semua bisa dijerat dengan Qanun Aceh Nomor 11 Tahun 2020 Pasal 23 tentang busana islami. Karena baru pertama kali, maka aparat memberikan keringanan. Mereka hanya diperingatkan. Jika di kemudian hari mereka masih melakukan hal yang sama, maka mereka akan mendapatkan sanksi seperti diatur dalam qanun itu. 

Masalahnya, untuk apa para petugas, yang berjenis kelamin laki-laki, itu masuk ke salon. Bukankah salon di Aceh biasanya hanya didatangi oleh pengunjung perempuan. Di tempat-tempat seperti itu, tentu saja wajar jika perempuan tidak menggunakan hijab. Toh di dalam salon itu juga hanya ada perempuan hingga saat petugas laki-laki masuk ke dalam salon.  

Jika memang salon itu menerima tamu pria, atau menjadi tempat prostitusi, maka setelah mendapatkan bukti yang cukup, petugas dapat saja bertindak. Bisa dengan memanggil pemilik tempat atau segera menutup salon tersebut. 

Tindakan para petugas yang masuk ke dalam salon wanita ini tentu harus jadi perhatian. Jangan-jangan, di kemudian hari, mereka juga akan masuk ke toilet khusus perempuan dan mendapati perempuan-perempuan yang tidak mengenakan jilbab lantas mereka diberikan peringatan, seperti para pekerja salon. 

Atau lebih berbahaya lagi jika mereka masuk ke rumah-rumah penduduk hanya untuk memperingatkan seorang istri atau anak gadis orang yang tidak mengenakan jilbab. Mudah-mudahan tidak sampai ke sana.

Penindakan atas nama syariat Islam harus juga dijalankan dengan cara yang benar. Petugas boleh menindak para pekerja salon yang berpakaian seksi jika mereka berkeliaran di luar tempat kerja tanpa jilbab dan berpakaian yang mengundang syahwat laki-laki. Tapi tidak di ruang-ruang private. Salon itu adalah ruang pribadi, tidak seperti warung kopi. 

Dan alangkah lebih mulia jika razia seperti ini dilakukan oleh petugas perempuan. Dengan demikian, para pekerja salon itu tidak perlu terekspos dan dicap binal hanya karena dugaan melanggar syariat Islam. Para petugas laki-laki juga tetap terjaga pandangannya dari hal-hal yang tak seharusnya mereka pandang. 

Komentar

Loading...