Unduh Aplikasi

Setengah Hati Mencari Wakil

Setengah Hati Mencari Wakil
Ilustrasi: trainer29

SEJAUH ini, setelah pelantikan Nova Iriansyah menjadi Gubernur Aceh, hanya Partai Nanggroe Aceh yang serius menggodok nama kandidat wakil gubernur untuk sisa masa jabatan Kepala Daerah Aceh 2017-2022. PNA mengajukan tiga nama untuk memilih satu orang yang harus diputuskan oleh majelis tinggi partai itu. 

Sisanya, ada. Tapi tak terlalu serius. Partai Daerah Aceh, misalnya, mencoba mengusung nama Tengku Muhibussabri alias Abi Muhib. Dalam sebuah rapat yang tidak dihadiri oleh sang ketua partai, pengurus partai itu mendaulat Abi Muhib sebagai pendamping. 

Muslahuddin Daud, Ketua PDIP Aceh, tak “sesantun” PDA dalam mengusung nama kandidat calon wakil gubernur. Dia menyatakan langsung rencananya untuk maju sebagai pendamping Nova. 

Sementara Partai Kebangkitan Bangsa hampir tak terdengar gaungnya. Ketua PKB Aceh, Irmawan, mungkin tak terlalu berminat untuk maju karena masa tugas wakil gubernur akan berakhir pada 2022. Dia harus mengorbankan jabatan sekarang sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat di Senayan. Membuang jabatan sebagai anggota dewan pusat untuk menjadi wakil gubernur tentu tak sebanding. 

Namun, lagi-lagi, hanya PNA yang mengeluarkan surat dukungan terhadap tiga nama. Mereka adalah Tengku Muharuddin, politikus Partai Aceh yang pernah menjabat sebagai Ketua DPR Aceh; Muhammad Nazar, bekas wakil gubernur dan Ketua Partai SIRA; serta Muhammad MTA, politikus PNA.   

Selebihnya, masing-masing partai belum mengeluarkan surat rekomendasi berisi nama-nama kandidat pengganti Nova. Padahal, waktu yang tersisa untuk menentukan nama tersebut semakin mepet karena nama itu harus dibahas di DPR Aceh sebelum dibawa ke Kementerian Dalam Negeri. 

Sikap ini tentu dipertanyakan. Tidak hanya karena waktu yang tersisa relatif panjang bagi Pemerintah Aceh untuk memiliki wakil gubernur, ketiadaan wakil gubernur juga melanggar Undang-Undang Pemerintah Aceh menyatakan Pemerintah Aceh dipimpin oleh gubernur dan wakil gubernur. 

Hal seperti ini hendaknya menjadi perhatian bagi partai politik pengusung pasangan Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah pada Pemilihan Kepala Daerah Aceh 2017. Karena kegagalan dalam mencari wakil gubernur tentu akan sangat berdampak buruk bagi jalannya roda pemerintahan di Aceh, dan yang harus bertanggung jawab atas persoalan ini tentu saja para pemimpin partai politik yang sepertinya lebih senang membiarkan Nova memimpin Aceh sendirian. 

Komentar

Loading...