Unduh Aplikasi

Setahun Pasca Gempa, Murid SD Panteraja Masih Belajar di Bawah Tenda

Setahun Pasca Gempa, Murid SD Panteraja Masih Belajar di Bawah Tenda
Murid SDN 1 Pante Raja Belajar di bawah tenda

PIDIE JAYA - Setahun pasca gempa bumi menguncang Kabupaten Pidie Jaya yang memporandakan ribuan bangunan termasuk fasilitas pendidikan. Namun hingga kini, murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Panteraja, Kecamatan Panteraja, kabupaten setempat masih belajar di bawah tenda darurat.

Amatan AJNN di SDN 1 Panteraja, belasan murid sekolah dasar tersebut hingga kini masih belajar di bawah dua tenda darurat bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Pusat (BNPB). Sementara dua unit ruang kegiatan belajar (RKB) yang rusak akibat diguncang gempa 7 Desember 2016 baru mulai direhab pekan lalu.

Meski belajar di bawah tenda yang sudah mulai lapuk, proses belajar mengajar tidak terhambat sama sekali, muri-murid juga belajar dengan sungguh-sungguh, walaupun sesekali terdengar riuh seperti di pasar ikan.

Kepala SDN 1 Panteraja Nilawati melalui pelaksana tugas Nuraini kepada AJNN, Kamis (26/10) mengatakan, murid-murid belajar di bawah tenda karena tidak cukup ruang belajar. Namun katanya, tidak semua murid belajar di bawah tenda.

“Karena tidak cukup ruang belajar, murid harus belajar di bawah tenda, tapi hanya murid kelas II dan kelas III saja yang belajar tenda,” ujarnya.

Dikatakan Nuraini, meski terdapat satu ruang di latai dua yang masih dapat digunakan untuk proses belajar mengajar. Namun para guru enggan menggunakan ruang tersebut karena lantai ruangan itu sudah bergelombang akibat guncangan gempa akhir tahun lalu.

“Sebenarnya ruang yang dilantai dua itu masih bisa digunakan, tapi kami takut karena lantainya sudah bergelombang, makanya tidak kami gunakan lagi,” kata Nuraini.

Nuraini menambahkan, sekolah yang memiliki 213 murid itu saat ini masih mempunyai lima RKB dan satu ruang guru untuk murid kelas I.

Di Pidie Jaya umumnya, sekolah dasar hanya mengunakan satu ruang untuk satu kelas. Namun karena kebanyakan murid, lanjut Nuraini, sekolah tersebut harus mengunakan dua ruang untuk satu kelas.

“Ruangan belajar ada lima, dan satu ruang guru untuk kelas I. karena banyaknya murid, sehingga kelas II dan kelas III harus dipisah menjadi dua ruang, makanya ruang belajar di SD ini tidak cukup,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan setempat Saiful Rasyid yang dikonfirmasi AJNN melalui seluler mengatakan, saat ini dua RKB sedang direhab untuk memenuhi kebutuhan ruang belajar di sekolah tersebut.

Solusinya, lanjut Saiful, murid yang masih belajar di bawah tenda tersebut harus belajar bergantian atau belajar di sore hari.

“Itu sekolah sedang rehab dua RKB. Kebetulan tenda belum dibongkar. Kalau tidah harus belajar sore atau ganti shif. Lebih baik datang ke sekolah koordinasi dengan kepsek dan guru,” imbuh Saiful melalui pesan singkat.

Komentar

Loading...