Unduh Aplikasi

INTERMESO

Sepeda

Sepeda
Ilustrasi: satujam

PENANGKAPAN Edhy Prabowo, Menteri Kelautan dan Perikanan, memakan banyak ruang di media massa. Hampir-hampir tak ada media massa, entah itu siber, cetak, atau televisi, yang tidak memberitakan penangkapan sosok kesayangan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto itu. 

Media massa tidak sekadar mengupas dampak dari uang suap, atau uang peras, yang diberikan kepada Edhy atas keputusannya memberikan kemudahan kepada sejumlah orang dalam mengurus izin ekspor benur. 

Setelah ditangkap, Edhy ditelanjangi habis. Mulai dari jumlah uang yang diduga dia terima. Statusnya sebagai anak emas Prabowo. Atau barang-barang belanjaan Edhy saat berjalan-jalan ke Amerika Serikat. Uang peras ini diduga digunakan untuk membeli sejumlah barang bermerek, mulai jam tangan hingga road bike. Bahkan gaya berpakaian istri Edhy yang modis pun dipertontonkan, kali ini dalam nada yang minor. 

Hal-hal tentang kekayaan ini memang membuat kasta baru dalam kehidupan manusia. Hal-hal ini terus disodorkan ke alam bahwa sadar lewat tanyangan-tanyangan, entah itu di televisi atau media sosial. Banyak orang yang merasa harus membeli jam tangan, tas, sepatu, mobil atau sepeda, dengan harga selangit. Lantas memamerkan barang-barang itu di media sosial. Semakin mahal, maka orang akan merasa semakin berkedudukan. 

Dan ini menjadi lazim di era demokrasi. Masyarakat yang mengklaim diri sebagai orang yang tidak memandang kasta, malah bertindak lebih parah dari masyarakat yang hidup dalam kasta-kasta. Ada yang memandang rendah penumpang Lion Air karena merasa kelasnya adalah Garuda Indonesia.

Naik sepeda ontel, delman, becak mesin, atau penerbangan kelas low cost, hanya berlaku saat ingin mendaftarkan diri dalam pemilihan kepala daerah atau pemilihan umum. Hanya sekadar pencitraan. Selebihnya dusta. Karena, sebenarnya, yang diincar adalah kemewahan dan fasilitas wah.  

Ada yang berlomba-lomba membeli sepeda mahal, karena ingin dianggap terhormat. Harga sepeda yang dibeli Edhy Prabowo, misalnya, mencapai Rp 155 juta. Padahal jika Edhy merasa cukup dengan sepeda yang biasa-biasa saja, mungkin dia tidak akan terjebak untuk melakukan korupsi. Sebagai seorang menteri, Edhy mungkin malu menggunakan sepeda yang harganya di bawah cervelo, merek sepeda Luna Maya, atau brompton yang legendaris itu.  

Dalam masyarakat modern, individu-individu di dalamnya menempatkan kekayaan dalam posisi tertinggi. Semakin kaya, maka dia menganggap dirinya lebih baik dari orang yang tak punya alias miskin. Karena itu, mereka sangat bernafsu untuk mencari harta sebanyak-banyaknya. Bahkan setelah jadi kaya, banyak yang menganggap masa lalu sebagai orang miskin adalah sebuah hal yang hina. 

Apapun profesi seseorang, tujuan utama hidupnya adalah ingin kaya. Bekerja tak lagi dianggap sebagai pengabdian. Profesi adalah cara cepat menjadi kaya. Miskin dianggap sebuah kehinaan. Sehingga banyak yang mau mencuri, poklek, bahkan merampok dan memeras, agar menjadi kaya. 

Banyak orang rela melakukan tindak pidana korupsi. Sukur-sukur tidak tertangkap, seperti Edhy atau politikus dan pejabat lain. Karena itu, saat memutuskan untuk berlaku korup, tidak boleh tanggung-tanggung. 

Minimal, dari hasil korupsi, kalau pun tertangkap, masih punya banyak uang untuk menyogok petugas lapas agar bisa keluar penjara di akhir pekan dan menjalani masa hukuman lebih singkat. Setelah keluar dari penjara, pun, masih ada uang hasil kejahatan yang bisa dinikmati. 

Komentar

Loading...