Unduh Aplikasi

Separatisme, Bukan Terorisme

Separatisme, Bukan Terorisme
Masjid Raya Baiturrahman. Sumber: dprk-bandaaceh.go.id
SYAHDAN, pascatsunami, seorang teman berkebangsaan Prancis—seorang editor di Channel 2 France TV—bercerita tentang sikap tentara Prancis pada perang di Irak. Dia menyaksikan langsung penyerbuan ke rumah-rumah penduduk sipil di Irak dan tak pernah melihat seorang tentara Prancis memasuki rumah-rumah itu dengan membawa serta anjing pelacak.

Bagi mereka, membawa anjing ke dalam rumah seorang muslim adalah hal tabu. Sikap berbeda ditunjukkan oleh tentara Amerika Serikat yang kerap berlaku sesukanya saat merazia warga Irak. Dia berujar, “peradaban kami dibangun sejak 2.000 tahun lalu. Kami memahami benar bagaimana bergaul dengan umat Islam. Mereka tak akan mengerti.”

Mengutip Melville Jean Herskovits (1895-1963), budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa.

Kebudayaan memang tak bisa diajarkan dalam waktu yang singkat. Seperti di Aceh. Sejarah mencatat daerah ini adalah daerah konflik. Perang seperti mendarah daging. Bahkan di saat-saat damai, masih ada beberapa orang yang memiliki senjata dan menebar ancaman kepada pemerintah. Nurdin bin Ismail alias Din Minimi adalah salah satunya.

Pergerakan bersenjata sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan ini adalah ciri khas pergerakan di Aceh. Bahkan hingga saat ini, benih-benih itu tetap tumbuh. Karena memang ketimpangan sosial di Aceh belum bisa diatasi. Cara pikir dan sikap yang moderat adalah produk budaya Aceh yang keras, jejak peperangan yang panjang. Negeri ini pernah menjadi penguasa di Asia Tenggara. Berdiri sejajar dengan kerajaan-kerajaan besar di Eropa dan Timur Tengah.

Sehingga tak heran jika di Aceh, sulit untuk melihat terorisme muncul dan berkembang. Karena dalam pandangan masyarakat, teror itu hanya akan dilakukan kepada negara dan penguasa yang zalim. Bukan kepada masyarakat. Apalagi menjadikan diri sebagai martir untuk mencapai target dan menyampaikan pesan. Cara lazim untuk melawan kesewenang-wenangan adalah mengangkat senjata.

Namun adalah sebuah kesalahan saat pemerintah dan masyarakat tak menganggap potensi terorisme ini ada. Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi membuat setiap orang dengan mudah mengakses jaringan-jaringan terorisme dan menjadi bagian di dalamnya.

Kunci untuk menghambat gerakan terorisme ini adalah kembali memperkokoh silaturahmi di antara masyarakat. Peran gampong sebagai pemerintahan terdekat dengan rakyat tak boleh berhenti pada urusan administratif saja. Setiap orang di gampong harus tetap awas dalam melihat perubahan dan pergeseran nilai yang mungkin tak sesuai dengan adat dan budaya Aceh. Termasuk memastikan tak ada ajaran sesat dan melenceng dari akidah yang mengincar anak-anak Aceh sebagai lahan untuk tumbuh dan berkembang.

Komentar

Loading...