Unduh Aplikasi

Sentimen Ekonomi AS Angkat Rupiah ke Rp13.639 per Dolar AS

Sentimen Ekonomi AS Angkat Rupiah ke Rp13.639 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah menguat ke Rp13.639 per dolar AS pada perdagangan Senin (20/1). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari).

JAKARTA - Nilai tukar rupiah berada di Rp13.639 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Senin (20/1) sore. Posisi tersebut menguat sebesar 0,04 persen dibandingkan nilai pada penutupan perdagangan pada Jumat (17/1).

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp13.654 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi Jumat (17/1), yakni Rp13.648 per dolar AS.

Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS.Tercatat, lira Turki melemah sebesar 0,24 persen, ringgit Malaysia 0,14 persen, peso Filipina 0,05 persen, dan yuan China sebesar 0,04 persen.

Selanjutnya, pelemahan juga terjadi pada dolar Singapura sebesar 0,04 persen, dolar Taiwan 0,04 persen, dan dolar Hong Kong serta yen Jepang sama-sama melemah sebesar 0,03 persen. Sementara, penguatan hanya terjadi pada baht Thailand sebesar 0,12 persen dan won Korea sebesar 0,13 persen terhadap dolar AS.

Kemudian di negara maju, mayoritas nilai tukar terpantau bergerak melemah terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,35 persen, dolar Kanada 0,03 persen, dan dolar Australia sebesar 0,01 persen, diikuti euro yang melemah 0,07 persen terhadap dolar AS.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah sore ini disebabkan oleh rilis data perekonomian AS yang positif.

Ibrahim mengatakan Kementerian Perdagangan AS pada hari Jumat (17/1) lalu menunjukkan peningkatan pendapatan sektor perumahan AS pada bulan Desember 2019 yang jauh di atas perkiraan ekonom, US$1,38 juta.

Selain itu, lanjut Ibrahim, penjualan ritel AS juga meningkat diikuti indeks aktivitas manufaktur yang melambung ke level tertinggi dalam delapan bulan terakhir.

"Data positif mengurangi kemungkinan bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga ketika bertemu akhir bulan ini," kata Ibrahim saat dihubungi CNNindonesia.com, Senin (20/1).

Diketahui, The Fed telah memangkas suku bunga sebanyak 25 basis poin selama tiga bulan ke belakang pada tahun 2019 sebelum menghentikan siklus pelonggaran pada bulan Desember.

Menurut Ibrahim, dengan data ekonomi AS sebagian besar optimis sekarang, sebagian besar analis tidak akan mengharapkan bank sentral AS untuk memulai babak baru pemotongan suku bunga, kecuali jika perang perdagangan kembali terjadi.

Dari sisi domestik, Ibrahim melihat pasar cenderung hati-hati dalam menanti Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dilaksanakan pada 22-23 Januari mendatang.

"Ada proyeksi Bank Indonesia akan kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 persen menjadi 4,75 persen, walaupun banyak pengamat yang mengatakan Bank Indonesia masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di 5 persen akibat penguatan mata uang rupiah yang begitu tajam," ungkapnya.

Lebih lanjut, Ibrahim memprediksi rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp13.620 hingga Rp13.660 per dolar AS pada perdagangan Selasa (21/1) esok hari.

Iklan Kriyad

Komentar

Loading...