Unduh Aplikasi

Senjata

Senjata
Ilustrasi. Foto: www.stevennoble.com
BENDA ini menjadi penanda di setiap fase kehidupan manusia. Dia juga menjadi ciri bagi setiap identitas. Di masa Musa as, sebuah tongkat yang kini bersemayam di sebuah museum di Turki menjadi simbol penaklukan rezim Firaun yang menindas.

Di tangan Musa, atas izin Allah, tongkat kayu itu berubah menjadi ular raksasa yang melumat ular-ular kecil, milik penyihir antek-antek Firaun, dalam sekejap mata. Mematahkan kesombongan para penyihir yang saat itu memang berkuasa di negeri Mesir.

Tongkat ini pula yang membelah lautan dan memberikan jalan bagi Bani Israil menyeberang. Lari dari kejaran tentara Firaun yang menghunuskan senjata kepada rakyatnya.

Muhammad saw juga memiliki senjata. Tidak hanya satu. Muhammad saw memiliki sembilan bilah pedang. Dan salah satu yang terkenal adalah Dzulfikar. Pedang yang memiliki dua mata ini menjadi senjata yang tak lepas dari genggaman Ali ra, sekembalinya dari perang Uhud.

Dari banyak senjata itu, ada satu kesamaan penting. Senjata-senjata itu digunakan untuk mempertahankan diri. Musa menggunakannya untuk melindungi rakyatnya. Dan Muhammad menggunakannya untuk melawan kaum kafir. Senjata-senjata ini hanya diarahkan kepada musuh.

Insiden penembakan di Lhokseumawe yang mengorbankan seorang perempuan simpatisan partai politik--dia terluka di bagian pantat akibat peluru--dan kepolisian tentu tak perlu terjadi jika memang senjata digunakan sesuai peruntukannya: memerangi musuh dan melindungi rakyat.

Simpatisan partai politik bukan musuh. Perbedaan pandangan bukan sebuah kutukan yang harus dihancurkan. Apalagi mereka tidak sedang menyerang dan mengancam nyawa anggota polisi. Insiden itu terjadi hanya akibat sang sopir ketakutan karena tak memiliki surat-surat kendaraan yang lengkap.

Dan polisi, dengan mudah melepaskan tembakan yang belakangan diklaim sebagai tembakan peringatan. Namun tembakan horizontal jelas bukan sebuah upaya peringatan.

Janji kepolisian untuk menindak aparatnya yang berlaku di luar kewenangan itu harus dibuktikan. Jangan sekadar janji manis. Ingat, senjata dan pelurunya dibeli dari uang rakyat. Tidak seharusnya diarahkan kepada rakyat.

Jika negara tak mampu menjadi seperti Musa, yang menggunakan senjata untuk melindungi umatnya, minimal tidak menjadi Firaun, yang menghunuskan senjata dengan rasa benci kepada rakyatnya.

Komentar

Loading...