Senjata dan Narkoba

Senjata dan Narkoba
Ilustrasi: The Telegraph.

DUA kasus penembakan di dua tempat berbeda di Aceh harus menjadi atensi Kepala Kepolisian Daerah Aceh Irjen Pol Ahmad Haydar. Apalagi satu di antaranya menyebabkan kematian Komandan Satuan Tugas Badan Intelijen Strategis Tentara Nasional Indonesia. 

Pengungkapan kasus ini penting untuk mengembalikan rasa aman di tengah-tengah masyarakat. Terutama warga yang dekat dengan peristiwa itu. Karena diakui atau tidak, salakan satu peluru bisa berdampak besar terhadap seseorang atau keluarga mereka. 

Kepolisian perlu mengungkap pelaku dan motif tindakan mereka. Karena bukan tidak mungkin hal-hal ini sangat berkaitan dengan peredaran narkoba di Aceh. Narkoba dan senjata api adalah dua serangkai yang berjalan beriringan.

Setelah tak ada lagi perang, maka Aceh memasuki babak baru. Daerah ini perlahan-lahan berubah menjadi tempat transit narkoba yang masuk dari luar negeri. Di saat yang bersamaan, kasus-kasus kepemilikan senjata api juga semakin meningkat. 

Bahkan dalam beberapa penggerebekan narkoba, polisi juga menemukan senjata api yang dimiliki oleh para bandar dan pengedar. Bahkan disinyalir, jaringan peredaran senjata terkait erat dengan peredaran narkoba. 

Model peredaran keduanya juga mirip. Si pembeli, biasanya, tidak bersentuhan dengan pembuat dan pemasok senjata. Keduanya menggunakan lapisan-lapisan sebagai benteng pertahanan. 

Sebagai daerah yang lama dirundung konflik, tentu hal ini tak bisa dipandang sebelah mata. Dua serangkai kejahatan ini, peredaran narkoba dan senjata api, adalah perpaduan bahaya yang dahsyat yang dapat merusak tatanan sosial di Aceh.

Jika kepolisian tak benar-benar bertindak, menggunakan semua sumber daya mereka, bukan tak mungkin Aceh menjadi daerah-daerah seperti yang dilihat di film-film tentang mafia narkoba. 

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini