Unduh Aplikasi

Sengketa Tanah Berlanjut, Penggarap dan Pemilik Sawah Saling Lapor Polisi

Sengketa Tanah Berlanjut, Penggarap dan Pemilik Sawah Saling Lapor Polisi

LHOKSEUMAWE - Kasus sengketa lahan garap petani asal Keude Bungkah Kecamatan Muara Batu di Sawah Desa Paloh Mee Kecamatan Dewantara Kabupaten Aceh Utara, berlanjut ke ranah hukum.

Tepatnya di hari perayaan kenduri blang, kedua pihak bertikai itu saling membuat laporan pengaduan ke Polres Lhokseumawe.

Kedua pihak tersebut adalah para petani dan penggarap melalui Pengacaranya Husni Thamrin Tanjung dan pemilik Sawah Ridwan melalui kuasa hukumnya LSM Coperlink saling mengklaim hak atas sawah produktif seluas tiga hektar di Desa Paloh Mee itu.

Pasalnya, tepat memasuki hari perayaan kenduri Blang di Kecamatan Muara Batu Kabupaten Aceh Utara kemarin, puluhan para petani Keude Bungkah yang sedang merayakan kenduri Blang secara spontan membongkar paksa pagar kawat berduri dan pamflet bertuliskan tentang supremasi hukum di areal sawah.

Sejumlah barang dan tujuh unit pamflet yang merupakan milik properti LSM Coperlink itu pun langsung diangkut dan diserahkan ke Polres Lhokseumawe sebagai barang bukti.

Salah seorang petani lahan garap M. Yusuf Alamsyah (61) mengatakan, hasil panen padi mereka di lahan garap sebanyak 1,5 ton telah dibawa lari LSM Coperlink selaku kuasa hukum Riwan yang menglkaim sebagai pemilik lahan yang sah.

Yusuf juga memperlihatkan surat tanda bukti lapor bernomor, LP/ 512/ XII/2016 / res Lhokseumawe pada Minggu (18/12) lalu, tentang kegiatan LSM Coperlink melakukan pemasangan spanduk da pagar di lahan sawah garap milik Yusuf Alamsyah.

Bahkan sampai hari ini para petani tidak mengetahui dimana keberadaan padi hasil panen bulan lalu, para petani mengaku mengalami kerugian lantaran tidak bisa menikmati hasil jerih payahnya menggarap sawah.

“Padi saya dicuri dan tak pernah dikembalikan, sekarang muncul klaim hak milik diatas sawah garapan kami,"katanya.

Dia meyebutkan, karena dalam waktu dekat mulai memasuki musim tanam, serta adanya pemasangan pamflet. Jadi para petani dan masyarakat Bungkah, terpaksa membongkar seluruh pagar beserta pamflet larangan yang dipasang oleh LSM itu.

Yusuf menjelaskan untuk menghindari tuduhan melakukan pencurian, maka properti milik Coperlink kemarin langsung diserahkan kepada aparat kepolisian, sebagai barang bukti tambahan atas tindakan anarkis. Terutama, dalam aksi manuver guna menguasai lahan serta mengusir para penggarap lahan tersebut.

Pengacara Petani Lahan Garap Husni Thamrin Tanjung SH meminta pihak kepolisian segera menindaklanjuti persoalan tersebut. Pasalnya, kendati sudah dilapor ke polisi, namun LSM Coperlink tetap melakukan memagari sawah kliennya, serta memasangi pamflet yang mengganggu aktifitas para petani.

Sementara itu, Ketua Umum LSM Badan Pimpinan Pusat Coperlink Junaidi Siahan, ST kepada wartawan mengaku akan segera menggugat balik para petani lahan garap dan membuat laporan pengaduan ke Polres Lhokseumawe terkait pencemaran nama baik, perusakan dan perampasan harta sah milik orang lain.

Junaidi mengatakan para petani dan penggarap sawah asal Desa Bungkah itu, pada Minggu (18/12) kemarin telah melakukan tindakan melanggar hukum atas tindakan mengeksplorasi dan merampas lahan milik orang lain.

Junaidi juga menunjukkan surat tanda bukti lapor nomor : TBL/514/XII/2016/Aceh/Res Lhokseumawe pada Minggu (18/12) lalu atas laporan pencurian yang dilakukan kelompok petani M. Yusuf Alamsyah dan Ilyas Percok, 42 Desa Keude Bungkah.

Kronologis kejadiannya, petani yang ditunggangi penggarap ilegal asal Keude Bungkah melakukan perusakan dan perampasan lahan milik orang lain yang terjadi sekira pukul 12.51 wib kemarin, juga telah memasuki dan menguasai lahan sawah milik Ridwan yang mengaku memiliki sertifikat asli.

Pada awalnya mereka datang dengan alasan hendak merayakan kegiatan kenduri blang, tiba-tiba berubah menjadi gerakan merusak pagar kawat berduri sebanyak 25 rol dan merobohkan pamflet bertulis tentang berbagai supremasi hukum.

Bahkan mereka juga ikut merusak dan menghilangkan pagar kawat berduri yang melingkari sawah seluas 3 hektar hingga pemilik lahan mengalami kerugian senilai Rp 35 juta.

Terkait hasil panen padi yang pernah diambil oleh pihaknya, Junaidi menyebutkan sudah diserahkan pada Syarifuddin ketua pemuda Desa Bungkah. Sebanyak 31 karung masih disimpan, dititipkan oleh LSM Cooperlink karena padi itu milik klien mereka yang punya sawah.

Junaidi menuding para petani dan penggarap sedang melakukan perusakan dan menyerobot lahan orang secara paksa dan sepihak tanpa didasari dengan kekuatan hukum seperti surat izin resmi sebagai bukti kepemilikan.

Komentar

Loading...