Unduh Aplikasi

Sengketa Lahan, Warga Nagan Raya Blokir Jalan Kebun PT Fajar Baizury

Sengketa Lahan, Warga Nagan Raya Blokir Jalan Kebun PT Fajar Baizury
Warga memblokir jalan milik PT. Fajar Baizury
NAGAN RAYA - Masyarakat dua desa, yaitu Cot Rambong dan Cot Me, di Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya memblokir jalan kebun milik PT. Fajar Baizury dengan cara memagarinya menggunakan kawat berduri.

Jalan milik perusahaan itu berada di afdeling VI atau berbatasan dengan Desa Cot Rambong yang dianggap warga merupakan tanah ulayat milik desa yang diserobot oleh perusahaan. Pemblokiran jalan berlangsung, Sabtu (9/4), yang diikuti oleh puluhan warga baik laki-laki maupun perempuan.

Khairil AR, salah satu warga yang ikut dalam aksi tersebut mengatakan, pemblokiran jalan sengaja dilakukan untuk menghentikan aktivitas perusahaan yang terus-menerus menggarap lahan yang sedang bersengketa. Selain itu, pemblokiran ini salah satu bentuk atas kekecewaan terhadap Pemerintah Kabupaten Nagan Raya yang tidak pernah mengambil sikap untuk menyelesaikan konflik tersebut. "Ini terpaksa kami lakukan karena sudah berulang kali kami sampaikan ke Pemerintah Nagan Raya, tapi tidak ada penyelesaian,” kata Khairil

Khairil menyebutkan, konflik lahan dengan masyarakat sudah pernah disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dan Pemerintah Aceh. "Tapi sampai sekarang belum ada hasil atas aduan yang kami sampaikan," jelasnya.

Bekas Geuchik Desa Cot Rambong mengaku, luas lahan milik desa yang diserobot oleh perusahaan berjumlah sekitar 480 hektare, dan milik Desa Cot Me seluas 300 Hektare dari yang seharusnya dalam izin Hak Guna Usaha (HGU) milik perusahaan hanya 9.300 hektare.

"Luas lahan yaang digarap perusahaan sudah lebih dari izin HGU yang dikeluarkan pemerintah. Mungkin dulunya Badan Pertanahan Negara waktu membuat HGU tidak turun kelapangan, hanya menulis di atas meja saja,” ujarnya.

Bahkan, konflik yang berlangsung antara masyarakat dan perusahaan sudah berlangsung selama 20 tahun lebih. Perjanjian perusahaan dengan kepala desa saat pertama sekali berdirinya lahan perkebunan hanya berjarak 3000 meter dengan jalan desa.

"Tapi sekang hanya tinggal 1000 meter dengan jalan desa. Ini sudah tidak sesuai dengan perjanjian lagi. Gara-gara perusahaan ini, kami sudah sering kebanjiran, sampai-sampai limbah kelapa sawit juga sudah mencemari kemukiman warga," imbuhnya.

Kehadiran perusahaan, kata Khairil, sudah membuat keresahaan bagi warga, bahkan warga Desa Cot Rambong pernah ditangkap sebanyak enam orang. "Sekarang intimidasi kembali terjadi dengan ditangkapnya empat orang warga Desa Cot Me yakni Asubki, (30), Musilan (34), Chaidir (41) dan Julinaidi (28) dengan tuduhan pembakaran barak perusahaan," kata Khairil.

Selain itu, warga desa juga sempat diancam untuk tidak masuk ke area lahan yang dianggap milik perusahaan. "Ada warga yang sempat dicekik oleh preman karena melanggar apa yang disampaikan perusahaan,” ungkapnya.

Komentar

Loading...