Unduh Aplikasi

Sempati Lagi, Sempati Lagi...

Sempati Lagi, Sempati Lagi...
ilustrasi:deviantart

NAHAS tak bisa ditolak. Kemarin siang, seorang ibu dan putranya yang berusia lima tahun meninggal dunia. Mereka terlibat kecelakaan lalu lintas dengan bus Sempati Star di Jalan Banda Aceh-Medan. Sepeda motor yang mereka kendarai bersenggolan dengan bus besar itu. Keduanya terpental dan terlindas ban bus yang berputar kencang.

Ini bukan insiden pertama yang melibatkan Sempati Star dengan pengguna jalan lain. Bahkan bus-bus dari perusahaan ini kerap terlibat dalam kecelakaan maut. Tentu tak elok menyebutnya sebagai “mesin pembunuh” meski melihat rekam jejaknya dalam dua tahun terakhir, gelar itu sepertinya layak disematkan.

Tahun lalu, Dinas Perhubungan Aceh memanggil manajemen perusahaan pengelola Simpati Star. Langkah ini diambil setelah 12 rangkaian kecelakaan yang melibatkan armada bus dari perusahaan itu. Pertemuan ini digelar bersama Balai Transportasi Aceh, Dirlantas Polda Aceh dan beberapa unsur lainnya.

Namun sepertinya, manajemen perusahaan ini masih terlalu “kebal”. Karena tak ada sanksi yang serius oleh pemerintah terhadap kelalaian yang dilakukan oleh sopir yang mengakibatkan kecelakaan fatal yang berujung pada kematian.

Kasus di Trienggading, Pidie Jaya, kemarin harusnya menjadi alarm. Pemerintah tak boleh membiarkan perusahaan ini beroperasi sampai mereka bisa menjamin tak akan ada lagi kecelakaan lalu lintas karena kelalaian sopir. Perlu penanganan serius dari pemerintah. Dan ini harus dilaksanakan dengan kebijakan yang menyeluruh agar semua elemen mendukung keselamatan dalam berkendara. 

Mobilitas manusia di jalanan semakin pesat dan padat. Sementara pengetahuan dan keselamatan berlalu lintas tidak berjalan sebanding. Hal ini tentu berdampak kepada meningkatnya kecelakaan lalu-lintas. Kita tentu tak ingin menjadikan Jalan Medan-Banda Aceh sebagai “ladang” pembunuhan.

Komentar

Loading...