Unduh Aplikasi

Selundupkan Sabu 67,4 Kg, Dua Warga Aceh Tamiang Dituntut Hukuman Mati

Selundupkan Sabu 67,4 Kg, Dua Warga Aceh Tamiang Dituntut Hukuman Mati
Dua terdakwa saat mengikuti sidang di Pengadilan Negeri Kualasimpang. Foto: Ist

ACEH TAMIANG - Kejaksaan Negeri Aceh Tamiang menuntut hukuman mati terhadap dua terdakwa yang menyelundupkan sabu-sabu seberat 67,4 kilogram dari Malaysia ke Kuala Penaga, Seruway, Aceh Tamiang. 

Dua warga Aceh Tamiang yang dituntut mati itu yaitu, Edi Syahputra alias Edi Samurai (41) dan Maman Nurmansyah alias Maman (35), ke-duanya tercatat sebagai warga Sungai Iyu, Aceh Tamiang.

Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Kualasimpang, Rabu (9/10). Jaksa Penuntut Umum (JPU) Roby Syahputra mengatakan, tuntutan itu sudah sesuai Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 132 UU RI Nomor 35 tahun 2009. 

"Dalam upaya mendukung program pemerintah memberantas narkoba, kedua terdakwa dituntut hukuman mati," kata Roby. 

Dalam persidangan dijelaskan, kasus penyelundupan sabu tersebut terungkap setelah patroli TNI AL menemukan sebuah kapal tak bertuan di perairan Kuala Penaga, Seruway pada 13 September 2018. 

Ketika itu petugas hanya menemukan empat buah tas berisi 65 bungkus sabu-sabu, dua paspor atas nama Maman Nurmansyah dan Muhammad Saad,  KTP atas nama Muhammad Saad dan dua ponsel. 

"TNI AL kemudian melimpahkan kasus ini ke BNN Sumut dan selanjutnya ke BNN Pusat," kata JPU Roby yang juga menjabat Kasi Pidum Kejari Aceh Tamiang itu.

Berdasarkan dakwaan JPU, BNN Pusat mengecek identitas paspor itu ke pihak berwenang di Malaysia. Terungkap kalau Maman Nurmansyah ternyata baru ditangkap aparat Malaysia dan belakangan dihukum delapan bulan penjara. 

"Ketika hukuman sudah memasuki enam bulan, dia (Maman) dideportasi melalui Kualanamu, Medan, lalu BNN langsung menangkapnya," kata Roby. 

Di hadapan penyidik, Maman Nurmansyah kemudian mengaku terlibat penyelundupan sabu-sabu di Kuala Penaga atas perintah Edi Samurai. 

Edi Samurai sendiri ternyata narapidana yang baru saja lolos dari hukuman mati di PN Tebing Tinggi. Hakim menjatuhkan hukuman lebih ringan, yakni 19 tahun penjara dan selanjutnya dikirim ke LP Cipinang. 

"Kasus ini membuktikan kalau peredaran narkoba tidak ada pengaruh di luar atau di dalam penjara. Tindak pidana ini ekstra ordinary, bukan lagi sangat meresahkan, tapi sudah sangat merusak," sebut Roby Syahputra.

iPustakaAceh

Komentar

Loading...