Unduh Aplikasi

Sedikit Kerja Banyak Rezeki

Sedikit Kerja Banyak Rezeki
Ilustrasi: Fotolia

KEINGINAN Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Aceh Jaya agar para investor di daerah itu mempekerjakan tenaga lokal sangat wajar. Karena memang seharusnya, investasi ini juga dinikmati orang-orang di daerah. 

Salah satunya peningkatan jumlah warga yang mendapatkan penghasilan dari kegiatan bisnis di sekitar daerahnya. Mulai dari penjual nasi hingga jabatan-jabatan manajerial di dalam perusahaan yang beroperasi. 

Dan itu sebenarnya tidak jadi masalah. Toh jika semua berjalan normal, para pengusaha akan mendapatkan banyak manfaat dari keberadaan tenaga lokal yang bekerja di perusahaan mereka. Dari sisi keamanan, mereka akan mendapatkan “perlindungan” karena para pekerja akan berusaha menjaga agar investasi itu tetap ada di daerah mereka dari gangguan pihak-pihak lain. 

Upah minimun di Aceh juga tergolong rendah. Hanya sekitar Rp 3,2 juta. Jumlah ini bahkan tidak sebanding dengan upah yang diterima pekerja di Bekasi, Jawa Barat, misalnya. Di daerah itu, para pekerja minimal mendapatkan gaji sebesar hampir Rp 5 juta. 

Namun yang jadi permasalahan adalah biaya-biaya lain yang tak ada di aturan resmi. Biaya siluman inilah yang membuat investasi menjadi barang mahal di Aceh. Sehingga untuk menyesuaikan pendapatan dengan pengeluaran, perusahaan harus pandai-pandai. Salah satunya adalah dengan mempekerjakan orang-orang luar yang mau digaji minimal dengan kerja yang maksimal. 

Soal kerja maksimal ini juga menjadi masalah. Hampir tak ada budaya kerja di Aceh. Sehingga perlu waktu lama agar seorang pekerja lokal beradaptasi dengan tuntutan perusahaan. Sisi kemampuan mereka juga masih butuh ditingkatkan untuk menjawab kebutuhan perusahaan yang mengedepankan efisiensi. 

Budaya sedikit kerja banyak uang, yang melekat di sebagian orang, inilah yang kerap membebani. Bahkan tak jarang berbagai macam cara dibuat agar perusahaan mau mengeluarkan uang yang tak seharusnya mereka keluarkan. 

Tentu saja hal ini harus jadi perhatian pemerintah daerah dan anggota legislatif. Harus ada gerakan bersama yang dapat mengubah pola pikir untuk menyongsong investasi dan budaya kerja. Sehingga, saat kita menuntut perusahaan untuk mempekerjakan tenaga kerja lokal, tidak ada penolakan dari perusahaan. Bahkan perusahaan mau mendorong peningkatan kapasitas dengan sejumlah pelatihan dan transfer pengetahuan kepada pekerja lokal. 

Di bidang industri minyak dan gas, saat Lhokseumawe dan Aceh Utara masih berjaya dengan tambang-tambang bahan bakar, anak-anak Aceh mendapatkan kesempatan yang luar biasa. Bahkan hingga kini, banyak di antara mereka yang menjadi pekerja di perusahaan-perusahaan asing di dalam dan luar negeri karena pengalaman kerja di Arun. 

Pencapaian-pencapaian itu tentu bukan hal yang dapat dibangun dalam waktu singkat. Namun dengan kesadaran bersama, terutama regulasi dan kepastian aturan main yang jelas dari pemerintah, dewan daerah, dan aparatur keamanan, akan banyak pemilik modal yang mau berinvestasi di Aceh. 

Aceh punya sumber daya alam dan manusia yang luar biasa. Namun jika tidak dikelola dengan baik, hal itu hanya akan mendatangkan bencana. Yang pada akhirnya akan mendatangkan kesengsaraan dan membuat Aceh terus mendapatkan stigma buruk. Cukuplah kita belajar dari peristiwa yang sudah-sudah. 

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...