Unduh Aplikasi

Sederhana

Sederhana
ilustrasi: Senandung Cita
FREDY Budiman tewas meninggalkan sepotong kisah yang tak tuntas. Pengakuan tentang penyimpangan kekuasaan di tubuh aparat kepolisian, Badan Narkotika Nasional dan Bea Cukai. Pengakuan yang sulit dibuktikan karena yang bersangkutan tak lagi dapat dikonfrontir. Pembuktian yang sama ruwetnya dengan perilaku penyimpangan kekuasaan lainnya di negeri ini.

Para pejabat di instansi yang disebut-sebut Fredy jelas tak terima. Tuduhan ini adalah tuduhan serius dan sangat mengganggu stabilitas di instansi tersebut. Mereka yang sinis memandang ini adalah sebuah upaya pembelaan diri seorang terhukum mati. Dan para pecandu narkoba, tak layak didengar penjelasannya.

Namun tak sedikit orang yang meyakini kebenaran pernyataan yang dititipkan lewat seorang aktivis kemanusiaan. Karena diyakini, bandar narkoba seperti Fredy tidaklah sendirian. Ini terlihat jelas dari jumlah narkotika dan obat-obatan yang angkanya terus meningkat. Orang-orang seperti Fredy akan selalu ada dan tersedia untuk memanfaatkan buruknya sistem hukum di Indonesia. Asal suka sama suka.

Hal ini bahkan terjadi di seluruh bidang yang melibatkan banyak uang. Jika di lingkungan narkoba, oknum pejabat memanfaatkan orang-orang seperti Fredy, yang rela menjadi “pebisnis” yang mewakili kepentingan mereka, di pemerintahan, kita akan selalu melihat para kontraktor yang menjadi perpanjangan tangan para pejabat pemerintahan untuk mengeruk keuntungan lewat tender-tender pemerintahan, dari tingkat gampong hingga tingkat pusat.

Hal ini jelas sulit dibuktikan karena proyek-proyek digilir. Jika tahun ini si Polan menang, maka di tahun berikut giliran si Polin yang menang. Ini seperti arisan. Dan semua bermuara kepada para birokrat korup dan kroni-kroninya. Merekalah yang menernak para kontraktor ini.

Tak heran jika jarang sekali terdengar kontraktor yang komplain meski jelas-jelas dalam sebuah proyek terjadi kecurangan. Mereka yang kurang beruntung tak perlu protes, toh ini hanya proses menunggu giliran. Sepanjang mampu tutup mulut, akan ada kerjaan lain yang akan diberikan.

Maka tak heran jika di parkiran kantor-kantor pemerintahan, kita menyaksikan deretan mobil mewah berplat hitam. Atau rumah-rumah mewah yang mereka diami. Ini bukan barang langka, meski secara matematis, akan sulit menyesuaikan pendapatan resmi dengan gaya hidup mereka.

Jadi, Komisi Pemberantasan Korupsi tak perlu khawatir masyarakat akan tidak menyukai mereka. Bukan hanya karena Gubernur Aceh Zaini Abdullah meyakinkan mereka bahwa tak ada masyarakat Aceh yang membenci mereka. Karena saat ini, siapapun itu, apapun lembaganya, akan dianggap sebagai pahlawan sepanjang mampu memberantas perilaku tak bermoral ini. Naif sekali jika menyederhanakan hal ini sebagai urusan suka atau tidak suka.

Komentar

Loading...