Unduh Aplikasi

Sebelum Wahyu Melangkah Berlalu

Sebelum Wahyu Melangkah Berlalu
Ilustrasi: FSBC

INSPEKTUR Jenderal Polisi Wahyu Widada digadang-gadang menjadi pengganti Komisaris Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia. Nama Sigit telah diserahkan kembali oleh Dewan Perwakilan Rakyat kepada Presiden Joko Widodo. 

Artinya, tidak lama lagi, Sigit akan dilantik menjadi Kapolri. Seiring dengan berakhirnya masa tugas Jenderal Idham Azis selaku anggota kepolisian dan Kapolri. 

Mengganti Sigit dengan Wahyu tentu bukan hal yang aneh. Sigit dan Wahyu adalah teman seangkatan di Akademi Kepolisian. Wahyu tercatat sebagai lulusan terbaik. Pengalaman Wahyu di bidang reserse juga cukup panjang. Artinya, dia tidak akan grogi saat menduduki jabatan itu.

Dan yang lebih meyakinkan, Wahyu adalah orang yang dimintai tolong oleh Sigit untuk menyiapkan makalah yang disampaikan di hadapan anggota DPR saat proses uji kelayakan dan kepatutan calon Kapolri. Ini jelas bukan pekerjaan sembarang orang. 

Namun alasan penting mengapa Wahyu layak menggantikan Sigit adalah komitmen pemberantasan peredaran narkoba yang ditunjukkan selama menjabat sebagai Kapolda Aceh. Wahyu benar-benar bekerja memastikan bawahannya untuk mengungkap jaringan narkoba di Aceh yang menggurita. 

Sepanjang Januari hingga Desember 2020, Polda Aceh menangani 1.543 kasus dengan jumlah tersangka mencapai 2.144 orang. 62 di antara wanita. Sedangkan barang bukti narkoba yang diamankan ada 469,5 kilogram sabu-sabu, 1,5 ton ganja serta 138 ribu butir ekstasi. 

Keseriusan Wahyu juga terlihat dari sikap tegas terhadap mereka yang terlibat dalam peredaran narkoba. Termasuk anggota kepolisian. Wahyu memecat 11 orang personil yang terlibat narkoba. Sedangkan total kejahatan konvensional yang ditangani Polda Aceh mencapai 4.149 kasus dengan penyelesaian 2.471 atau 60 persen. 

Dalam urusan pemberantasan korupsi, Polda Aceh tahun ini menangani sebanyak 61 berkas perkara dengan penyelesaian 27 berkas perkara. Sedangkan di internal Polda Aceh, kasus pelanggaran disiplin ada 185 perkara, pidana narkoba 11 perkara dan pelanggaran kode etik sebanyak 134 perkara.

Capaian-capaian ini penting menjadi catatan Kapolri baru dalam untuk mengisi jabatan yang akan lowong tersebut. Tentu saja menunjuk Wahyu untuk mengisi jabatan tersebut adalah keputusan yang tepat.

Karena itu, sebelum Wahyu meninggalkan Aceh, perwira bintang dua ini harus menunjukkan komitmen dalam menangani kejahatan lingkungan di Aceh. Banjir besar akibat kerusakan hutan harus menjadi fokus hingga dia meninggalkan Aceh.

Kejahatan lingkungan ini sangat menyengsarakan rakyat. Seperti narkoba, kejahatan ini bahkan memiliki daya rusak lebih tinggi. Penanganan kejahatan perusakan hutan di Aceh dan penambangan ilegal mungkin bisa dijadikan dijadikan rule model yang dapat diterapkan di Indonesia. Kuncinya, Wahyu harus membuktikan kemampuan memberangus mafia lingkungan di Aceh.  

Komentar

Loading...