Unduh Aplikasi

INTERMESO

Sebatang Rokok Seharga Rp 1 Triliun

Sebatang Rokok Seharga Rp 1 Triliun
Ilustrasi: pexels.

SEBAGAI seorang perokok, saya terpaksa menarik lagi asap rokok lebih dalam dan menghembuskan cepat usai membaca berita tentang penyebab kebakaran di Gedung Kejaksaan Agung. Kepolisian memastikan bahwa kebakaran itu terjadi karena pekerja di lantai enam gedung itu menyalakan api untuk membakar rokok. 

Putung rokok yang ditinggalkan dalam keadaan menyala itu lantas menyambar sejumlah cairan yang mudah terbakar. Lantas api merambat cepat di atas bahan mudah terbakar dan menghanguskan seluruh gedung bersama berkas-berkas penting.

Usai kebakaran, sejumlah analisis pun berseliweran. Ada yang menyebut kebakaran itu disengaja untuk menutup-nutupi kasus Djoko Tjandra, maling uang cisse Bank Bali. Ada juga yang menyebut itu semua adalah akal-akalan untuk menghanguskan berkas perkara pembobolan asuransi Jiwasraya. 

Dugaan-dugaan itu semakin liar karena tak lama kemudian Pemerintah Indonesia dan Dewan Perwakilan Rakyat sepakat menyuntikkan uang Rp 22 triliun. Dana ini akan digunakan dalam jangka waktu dua tahun ke depan. Cerita Jiwasraya hanyalah ganti sampul dari kejahatan-kejahatan oleh oknum aparat negara, politikus dan kroni mereka.  

Kebakaran itu sendiri menyebabkan kerugian sebesar lebih dari Rp 1 triliun. Belum lagi berkas-berkas perkara, atau bukti-bukti kejahatan, yang ikut terbakar dan musnah. Dan kejadian itu semakin menyudutkan para perokok. Di negara ini, orang-orang seperti saya akan dengan mudah dicap sebagai “jaringan” yang membakar gedung Kejagung. 

Tapi saya juga tak berani bersuara atau menulis untuk meminta kepolisian lebih serius mengungkap motif di balik kebakaran di gedung penting itu. Karena sejak lama rokok mendapatkan stigma buruk meski negara ini mendapatkan uang ratusan triliun dari upeti yang dibayarkan para perokok. 

Saya sepakat bahwa rokok berbahaya. Tulisan ini juga bukan mengajak pembaca untuk mulai menyalakan rokok. Namun seharusnya urusan rokok diletakkan pada konteks yang tepat. Jangan asal gas. Karena yang terjadi saat ini adalah permainan industri besar untuk menyudutkan rokok. Dan mereka berani mengeluarkan uang banyak untuk menyukseskan kampanye itu.

Hanya rokok yang dilabeli gambar-gambar menjijikkan di bungkusnya. Padahal saya juga berhak menuntut produsen gula, kilang beras, penjual kari kambing, atau kendaraan berbahan bakar fosil untuk menempelkan gambar sejenis di produk mereka. 

Sejatinya, setiap hal di dunia ini berpotensi untuk memusnahkan jika dilakukan secara berlebihan. Dan masalah utama dalam kehidupan ini adalah tingkat kesadaran, bukan ancaman. Sayangnya, di negara ini, lebih suka memberikan stigma dan ancaman ketimbang menumbuhkan kesadaran. Ah, saya jadi ingin menghabiskan sebatang lagi. 

Gemas-Dinas pendidikan aceh

Komentar

Loading...