Unduh Aplikasi

INTERMESO

Sapi dan Beasiswa

Sapi dan Beasiswa
Ilustrasi: chabad.org

SEMOGA Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan dan ketetapan hati kepada para penegak hukum di Aceh. Terutama mereka-mereka yang bekerja untuk membantu masyarakat memerangi korupsi di negeri ini.

Mari kita doakan agar Kepala Perwakilan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Aceh, Indra Khaira Jaya, diberikan Allah kesehatan dan kekuatan untuk membantu Kepolisian Daerah Aceh mengungkap indikasi aliran uang bantuan beasiswa Pemerintah Aceh kepada sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh. 

Mungkin uang yang diduga diambil oleh sejumlah anggota dewan, baik yang tak lagi menjabat ataupun yang masih berkantor di Gedung Parlemen Aceh, tidak seberapa dibandingkan dengan mega korupsi di Aceh yang tak sepertinya tak tersentuh. 

Mudah-mudahan kita tidak lupa--meski mungkin ada sebagai orang yang mencoba melupakan--bahwa ada mega korupsi Rp 650 miliar yang seharusnya digunakan untuk “menyenangkan” hati bekas kombatan Gerakan Aceh Merdeka. Tapi tetap saja korupsi beasiswa ini adalah sesuatu yang sangat buruk. 

Pendidikan seharusnya menjadi jalan untuk menghindarkan Aceh mengulang konflik. Bahkan jika perlu, uang Aceh yang ada dibuat untuk menyekolahkan seluruh anak-anak di Aceh hingga ke tingkat S2 atau S3. Tidak peduli seberapa besar gaji orang tua mereka. Yang jelas, sepanjang lahir di Aceh, maka si anak berhak mendapatkan pendidikan tinggi yang mungkin tak dikecap orang tuanya.

Namun yang terjadi sebaliknya. BPKP Aceh mendapati penerima beasiswa yang tidak sesuai dengan persyaratan. Sebelum dicarikan, terjadi kesepakatan antara mahasiswa penerima dengan para perantara untuk mengembalikan sebagian uang kepada anggota dewan yang “memikirkan” urusan anggaran ini. 

Mari, sekali lagi, kita mendoakan agar Indra dan rekan-rekan kerjanya di BPKP Aceh mengungkap aktor-aktor intelektual yang bertanggung jawab atas penyaluran beasiswa bermasalah ini. Mudah-mudahan saat kasus ini terungkap, dan orang-orang yang bertanggung jawab dimintai pertanggungan jawab, maka mereka berkesempatan untuk bertaubat. Tindakan mereka mengorupsi uang pendidikan itu adalah cara paling keji untuk menganiaya diri sendiri. 

Uang yang seharusnya digunakan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia Aceh malah ditilep untuk untuk kepentingan yang salah. Mereka, para pelaku, jelas mempermainkan hak anak-anak Aceh untuk mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik. Untuk dapat lebih jelas dalam merajut masa depan. Untuk menjadi bagian penting dari pembangunan yang membebaskan Aceh kemiskinan dan kekufuran yang disebabkan oleh kemiskinan. 

Atau mungkin memilih alternatif seperti yang diperintahkan Nabi Musa as kepada umatnya sebagai bukti bertaubat. "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang".

Mungkin penjara adalah cara yang tepat bagi para panilep uang bantuan beasiswa untuk membunuh nafsu dalam diri yang merusak diri sendiri dan orang lain. 

Komentar

Loading...