Unduh Aplikasi

INTERMESO

Sakit dan Kemuliaan

Sakit dan Kemuliaan
Ilustrasi: edx blog.

RASA sakit bisa saja datang berkepanjangan. Ada yang sakit dalam waktu lama--dalam kacamata manusia--namun dia tak kunjung mati. Sebaliknya, ada yang sehat dan normal-normal saja, namun tanpa sakit, yang lazim jadi tanda-tanda, dia mati.

Rasulullah Muhammad saw menderita panas badan yang sangat luar biasa melebihi kebanyakan orang. Allah memberikannya tanggung jawab sangat besar melampaui, semua yang lain. Sehingga Allah menganugerahkan juga kemuliaan yang sangat tinggi, melebihi siapapun. 

Tapi Muhammad atau siapa saja harus rela menahan rasa sakit yang teramat perih dan dahsyat. Sakit yang tak seorangpun bisa menanggung kecuali dia. 

Rasa sakit ini juga dirasakan oleh bangsa ini. Saat hampir tak ada keberpihakan dari negara dan pemerintahnya. Saat semua elemen yang seharusnya menjaga martabat, harta dan nyawa, malah menggasak. Sakit yang dirasakan rakyat sangat-sangat tak terperi. 

Saat jutaan rakyat berunjuk rasa menolak aturan dari pemerintahan yang zalim, mereka harus merasakan sakit. Kepanasan atau kehujanan. Menerima lontaran gas air mata atau pentungan aparat negara yang dibeli dengan pajak yang mereka bayar. 

Tentu saja rakyat merasa sakit karena saat kepala negara yang seharusnya menemui mereka. Mendengarkan keluhan dan menjalankan amanah untuk menjaga mereka malah lari menjauh untuk urusan yang tidak penting-penting amat. 

Tapi rakyat di negeri ini tengah menyongsong kemuliaan. Kekuasaan dan penguasa yang zalim, sekecil ukuran kekuasaan itu, apapun level kekuasaannya, tidak akan bertahan lama. Dia akan runtuh dengan cara sangat sangat menghinakan, dengan cara yang dia tak pernah sangka-sangka. 

Mengapa? Karena Allah itu Maha Adil. Dia selalu sangat adil kepada siapapun. Tindakan adil-Nya itu bukan karena Dia berkewajiban untuk berlaku adil. Melainkan karena Dia sangat sayang kepada makhluk-Nya. 

Komentar

Loading...