Unduh Aplikasi

Sajian Kuliner Stand Subulussalam di Ajang Aceh Culinary Festival Dikritik

Sajian Kuliner Stand Subulussalam di Ajang Aceh Culinary Festival Dikritik
Dokumentasi Aceh Culinary Festival 2018 lalu. Foto: www.genpi.co

BANDA ACEH - Yayasan Pelestarian Kebudayaan Suku Singkil (Yapkessi) melakukan protes terhadap kinerja PKK Kota Subulussalam serta dinas terkait yang terlibat dalam acara Aceh Culinary Festival (ACF) yang dilaksanakan Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh.

Protes tersebut dikarenakan sebagian sajian kuliner di Stand Subulussalam menampilkan masakan khas daerah dari daerah lain.

"Sebagian sajian kuliner di Stand Subulussalam ada masakan khas daerah lain seperti Pelleng yang notabenenya merupakan masakan khas suku Pakpak bukan makanan khas dari Singkil maupun Subulussalam," kata Munzir, Wakil Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Yapkessi, Sabtu (6/7).

Selain kulinernya, kata Muzir, pakaian adat yang di kenakan oleh duta wisata Subulussalam pada event tersebut juga bukan pakaian khas Singkil melainkan pakaian adat daerah lain.

"Kita sangat kecewa, kenapa di event ini pihak PKK dan dinas terkait tidak menampilkan baju adat daerah sendiri," ujarnya.

Event Aceh Culinary Festival ini, menurut Munzir tujuannya mempromosikan dan melestarikan kuliner khas Aceh ke masyarakat baik luar maupun dalam negeri.

"Seharusnya momen ini penting bagi kota Subulussalam untuk menunjukkan jati diri memiliki masakan khas yang tak kalah enak dengan daerah lainnya," katanya.

Terkait dengan hal tersebut, pihaknya akan menyurati Walikota Subulussalam dan dinas agar kedepan masakan dari Kota Subulussalam bisa ditampilkan di event lainnya.

"Kami menginginkan budaya adat Suku Singkil dan masakannya harus lebih di tonjolkan agar lebih dikenal," ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Sanggar Seni Shekh Hamzah Fansuri (S2-SHaF) Banda Aceh, pihaknya menyayangkan tampilan dan sajian khas daerah Subulussalam pada acara Aceh Culinary Festival 2019.

Ogek Liza Delima selaku pendiri S2-SHaF melihat tampilan stand kota Subulussalam sangat jauh berbeda mulai dari segi orname yang di pakai dalam anjungan hingga makanan yang disajikan.

"Makanan khas Subulussalam yang mestinya dapat dijual tidak ada dalam bentuk kemasan seperti Lompong sagu, Nditak, Delawakh Manuk, Ikan Itu kekhah, mestinya makanan ini yang harus di promosikan", pungkas Ogek Delima.

Menurut Ogek Delima makanan yang disajikan stand Subulussalam dalam Aceh Culinary Festival itu tidak menonjolkan ciri khas daerah Subulussalam malahan yang menonjol lebih ke daerah Pakpak salah satunya Pelleng.

"Ketika semalam saya berkunjung ke anjungan Subulussalam saya juga mendengarkan musik yang memang tidak identik dengan masyarakat kota Subulussalam yaitu musik menortokh, ini kan bukan musik biasa yang sering kita dengarkan di Subulusalam Singkil, kenapa bukan medendang atau gambus, ini menjadi sebuah kekeliruan dan pendangkalan sejarah adat Suku Singkil" katanya.

Jika pemerintah atau dinas terkait tidak paham dengan adat budaya daerah Subulussalam seharusnya sosialisasikan terlebih dahulu pada tokoh-tokoh adat Budaya yang mengerti makanan khas Subulussalam yang mayoritas suku Singkil.

Komentar

Loading...