Unduh Aplikasi

Saiful Mahdi Tidak Bersedia Minta Maaf

Saiful Mahdi Tidak Bersedia Minta Maaf
Saiful Mahdi (kemeja putih) didampingi kuasa hukumnya, Syahrul (kanan) saat memberikan keterangan kepada media di Mapolresta Banda Aceh. Foto Screenshot video

BANDA ACEH - Dosen Fakultas MIPA Unsyiah, Dr Saiful Mahdi telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polresta Banda Aceh atas kasus dugaan pencemaran nama baik.

Sebelumnya, Saiful Mahdi dilaporkan ke polisi oleh Dekan Fakultas Teknik Unsyiah, Taufik Saidi karena komentarnya di grub Whatsapp yang beranggotakan akademisi kampus itu.

Dalam komentarnya, Saiful mengkritisi hasil Tes CPNS dosen Fakultas Teknik Unsyiah pada akhir 2018 dalam ruang lingkup kampus tersebut.

Hari ini, Senin (2/9), Saiful Mahdi kembali diperiksa penyidik sebagai tersangka. Saat menjalani pemeriksaan, ia turut didampingi kuasa hukum nya dari LBH Banda Aceh.

Kasus ini sebenarnya sudah dilakukan pertemuan oleh beberapa pihak terkait untuk diselesaikan secara kekeluargaan. Namun hingga hari ini belum juga ada titik temu.

Saiful Mahdi mengatakan, pernyataan dirinya tersebut bukan hanya permasalahannya pribadi, tetapi lebih kepada perbaikan kampus Unsyiah di Darussalam dan di Aceh pada umumnya.

Baca: Dosen Unsyiah Saiful Mahdi Tersangka Pencemaran Nama Baik

Kata Saiful, pelaporan terhadap dirinya itu dinilai sebuah pembungkaman, bahkan dianggap sebagai bentuk kriminalisasi, atas dasar itu kemudian dirinya enggan menyampaikan permohonan maaf.

"Bagi saya ini adalah pembungkaman, kriminalisasi dan karena itu saya tidak bersedia minta maaf," kata Saiful kepada wartawan di Mapolresta Banda Aceh.

Sementara itu, Kuasa Hukum Saiful Mahdi, Syahrul menuturkan bahwa kasus tersebut bukan hanya kasus Saiful, tetapi lebih kepada kebebasan mimbar akademik agar dapat dijamin oleh kampus sesuai Undang-Undang perguruan tinggi.

"Ini bukan kasus hanya demi bang Saiful, tetapi demi kebebasan mimbar akademik yang harus dijamin oleh kampus sesuai dengan Undang-undang perguruan tinggi," ujarnya.

Kata Syahrul, kasus Saiful ini menjadi pintu masuk untuk mendobrak apa yang selama ini tertutup di kampus. Bahkan diyakini Saiful bukan korban satu-satunya.

"Saiful hanya pintu masuk, dan hal ini adalah salah satu langkah awal yang harus kita lakukan di Aceh untuk membongkar upaya pembungkaman terhadap kebebasan akademik diruang lingkup pendidikan," pungkas Syahrul.

Komentar

Loading...