Unduh Aplikasi

Rusak-rusak di Sekolah

Rusak-rusak di Sekolah
Ilustrasi: Tes

WAJAR jika Alhudri, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, kaget dan kecewa setelah mendengar kabar praktik jual beli jabatan kepala sekolah di Aceh Tenggara. Selain bertekad membersihkan dinas itu dari praktik korup ini, sejak awal menjabat, Alhudri juga bertekad untuk menjadikan sekolah benar-benar layak sebagai tempat pendidikan.

Membiarkan praktik jual beli jabatan, meski hanya kepala sekolah, tentu saja akan merusak ritme yang tengah dibangun. Sekolah yang diharapkan menjadi kawah candradimuka para pelajar Aceh, malah dikotori oleh ambisi dan hasrat meraup keuntungan oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

Karena itu, sangat wajar jika Alhudri segera menindaklanjuti kabar ini untuk memastikan kebenarannya. Itu yang pertama. Selanjutnya, Alhudri harus mempublikasikan hasil temuannya itu secara luas kepada masyarakat sehingga terang benderang duduk perkaranya. Karena ini menyangkut kepercayaan terhadap dunia pendidikan Aceh.

Sejak lama dunia pendidikan Aceh menjadi lahan basah bagi oknum pejabat di dinas pendidikan, baik di tingkat provinsi atau daerah. Bahkan aparatur sipil negara berlomba-lomba masuk ke dinas pendidikan karena berharap mendapatkan uang lebih selain gaji dan tunjangan sebagai upah yang mereka dapat setiap bulan.

Alhasil, sekolah pun menjadi sumber pemasukan. Sekolah-sekolah diperas untuk mengeluarkan bermacam dana yang sebenarnya tidak ada kaitan dengan urusan pendidikan. Bahkan tak jarang urusan kepala sekolah dipersulit hanya karena si oknum pejabat berhasrat mendapatkan uang lebih.

Lantas, karena terus dimintai uang, maka yang dilakukan oleh si kepala sekolah adalah mencari uang tambahan untuk menutupi pengeluaran yang disetorkan kepada si pejabat. Syukur-syukur dia bisa mendapatkan uang lebih yang bisa dimasukkan ke kantong pribadi.

Caranya bermacam-macam, dari menyulap kebutuhan sekolah hingga memungut dari siswa. Karena tak mungkin si kepala sekolah memenuhi kebutuhan pejabat di dinas dari uang gajinya.

Praktik ini lantas diserap oleh siswa. Mereka pun menganggap praktik ini adalah hal lazim. Kebiasaan buruk ini lantas dibawa-bawa ke perguruan tinggi hingga mereka bekerja di instansi pemerintahan atau swasta.

Urusan pendidikan itu bukan sekadar angka. Karena di Aceh, tak kurang orang pintar. Yang dibutuhkan saat ini adalah manusia yang berintegritas. Tanpa itu, sebesar apapun dana pendidikan, tak akan mampu mengangkat derajat manusia Aceh. Karena kerusakan moral itu malah dimulai dari sekolah.

Komentar

Loading...