Unduh Aplikasi

Rudi Putra, Nur Walhi, dan Potensi Pandemi Leuser Masa Depan

Rudi Putra, Nur Walhi, dan Potensi Pandemi Leuser Masa Depan
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid
 
Mungkinkah Covid-19 merupakan pandemi terakhir dalam sejarah umat manusia? Kalau tidak, kapan akan muncul lagi jenis mesin  pembunuh alami itu, atau setidaknya berapa lama lagi akan kembali  datang  pandemi yang seperti itu? Mungkin kah Indonesia, atau mungkinkah Aceh menjadi salah satu kawasan yang berpotensi melahirkan pandemi di masa yang akan datang?
 
Terhadap jawaban ancaman pandemi masa depan, semua ilmuwan setuju bahwa Covid-19 bukanlah pandemi yang terakhir yang dialami manusia, sehebat apapun ilmu pengetahuan yang dimiliki. Dimasa depan, akan muncul lagi berbagai pandemi dengan proyeksi kemunculan yang juga tidak pasti, lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun, satu abad, tidak dapat dipastikan.
 
Status “khalifah” yang dimiliki oleh manusia  yang abai terhadap keserasian dan kesimbangan kehidupan diantara semua mahluk yang hidup di planet bumi pasti akan menuai petaka. Itu peringatan dari sang Khalik, itu hukum alam, dan itu pandangan ilmu pengetahuan. Yang pasti, setiap definisi capaian kemajuan yang dicapai oleh manusia harus dibayar, salah satunya adalah pandemi.
 
Hari ini semakin terbukti bahwa kerusakan lingkungan akibat kemajuan  adalah penyebab utama berbagai petaka di muka bumi, terutama dengan timbulnya berbagai penyakit pada binatang dan manusia. Sejarah mencatat bahwa kemajuan dunia yang dimopoli oleh barat sesungguhnya baru terjadi kurang dari 300 tahun yang lalu. Kalaulah pendapatan domestik bruto yang menjadi ukuran kemajuan, maka barat tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Cina dan India, namun dua tempat ini juga punya sejarah pandemi.
 
Andrea Colli dan Franco Amatori (2019) dua profesor sejarah ekonomi dari Universitas Bocconi, Italia, dalam bukunya tentang sejarah ekonomi global, The Global Economy, A Concise History, menulis dua -pertiga kue ekonomi global, dengan ukuran kwantitatif GDP, berada pada dua kawasan besar yakni Cina dan India sebelum revolusi industri Eropah. Selanjutnya mulai dari abad ke 18, setelah Eropah mulai memasuki apa yang disebut dengan revolusi ilmu pengetahuan, maka pusat kekuatan dunia berpindah ke Eropah, termasuk di dalamaya kekuatan ekonomi. Eropah dan AS menikmati kemajuan dan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa selama 300 tahun dan kini bandul ekonomi kembali berbalik ke Asia, dengan Cina, India, Jepang, Korea Selatan, diikuti oleh  negara-negara ASEAN.
 
Disebalik kemajuan ekonomi, terutama di Cina, sejarah juga mencatat paling kurang  sejumlah  pandemi besar juga dimulai dari Cina. Hasil penelitian kelompok ilmuwan Universitas Cork, Irladia yang ditulis di jurnal Nature Genetics (2010) menemukan bahwa tiga pandemi besar dimulai di Cina yang kemudian menyebar ke berbagai tempat di benua Asia, Afrika, dan Eropah. Dalam konteks Cina, kemajuan ekonomi yang dicapai yang kemudian berpengaruh pada pertambahan penduduk dan konsumsi, secara berantai berpengaruh kepada keseimbangan lingkungan mesti dibayar dengan harga mahal, penyakit menular. Sebenarnya tidak hanya Cina, India pun sebenarnya pernah menjadi sumber pandemi global yang hebat, yakni penyakit Pes yang disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis.
 
Yang dimaksudkan dalam tulisan di jurnal itu adalah wabah Justinian yang menyerang kerajaan Byzantium-Romawi Timur pada tahun 541, wabah black death yang terjadi pada tahun 1346, dan flu Spanyol yang terjadi pada awal abad ke 20. Sesungguhnya  dalam konteks kontemporer, cukup banyak penyakit yang berukuran endemik atau epidemik yang dimulai dari Cina, semisal flu Hong Kong, avian flu, SARS, dan lain-lain, yang kemudian dapat dikendalikan. Walaupun, kontroversi Covid-19 masih tetap berlangsung, yang pasti penyebaran wabah itu dimulai dari pasar basah di kota Wuhan, Cina, yang kemudian menyebar ke seluruh dunia.
 
Penjelasan tentang asal muasal timbulnya berbagai penyakit yang mematikan yang ditimbulkan oleh virus sangat sederhana, yakni kegiatan manusia yang luar biasa yang telah mengganggu keseimbangan makhluk hidup secara alami yang telah bejalan selama ribuan, bahkan jutaan tahun yang lalu. Kemajuan Cina ribuan tahun sebelum nabi Isa lahir dan terus berlanjut sampai dengan abad ke 18, sesungguhnya berputar pada satu sumbu yang memberikan efek ganda kepada lingkungan.
 
Sumbu pemicu paling besar adalah pertumbuhan penduduk yang sangat luar biasa, yang berimbas kepada kepadatan penduduk perkotaan, dan ekspansi lahan pemukiman dan budidaya yang terus menerus terjadi yang mengakibatkan kerusakan habitat dan hilangnya keseimbangan lingkungan. Yang terjadi adalah dua hal, konsentrasi makhluk liar pada kawasan yang semakin sempit, dan semakin dekatnya interaksi manusia dengan makhluk liar, karena pemukiman yang semakin dekat dengan kawasan hutan yang tersisa.
 
Hampir semua pandemi yang terjadi, pada umumnya adalah proses perpindahan inang dari hewan ke manusia. Kepustakaan virologi dan kesehatan publik menyebutkan proses itu sebagai zoonosis, yakni sebuah kejadian dimana saling menulari virus yang biasanya terjadi antara sejenis atau sesama mahluk hewan, karena kehilangan keseimbangan alam dan proses evolusi berpindah ke manusia. Dalam konteks Cina klasik paling kurang, urbanisasi Cina yang telah terjadi ribuan tahun yang lalu, pertumbuhan penduduk tinggi yang  merusak lingkungan,  kemajuan ekonomi, dan konektivitas jalur sutera, adalah komponen-komponen penting yang menyumbang berkembangnya penyakit lokal yang pada awalnya endemi menjadi epidemi, untuk kemudian karena konektivitas antar negara dan kawasan menjadi pandemi global.
 
Apa yang membuat Cina unik adalah karena masyarakat Cina adalah penggemar makanan yang berasal dari berbagai hewan liar, baik karena alasan kuliler, maupun alasan obat, bahkan dianggap sebagai obat manjur sex laki-laki. Apa yang terjadi pada pasar basah di Wuhan dengan Covid-19 adalah kerumunan manusia yang berdekatan dengan berbagai makhluk liar yang dijual sejenis trengiling, kalong, dan berbagai makhluk lain yang merupakan bagian dari kultur makanan Cina.
 
Di kawasan pedesaan, karena pemukiman yang semakin padat, dan membuat kawasan lindung menjadi semakin kecil, kepadatan makhluk hidup menjadi sangat tinggi, maka penularan dari sesama binatang segera berobah menjadi perpindahan ke manusia. Itu yang terjadi pada zaman klasik, dan itu yang terjadi pada zaman moderen hari ini. Penyebarannya tetap saja mengacu kepada konektivitas, zaman klasik dengan jalur sutera, saat ini dengan Boing 747 dan Airbus A 380.
 
Apa urusan Rudi Putra, M.Nur Walhi, dan ancaman pandemi masa depan ekosistem Leuser? Jawabannya sangat sederhana. Mereka berdua, dan masih cukup banyak lainnya dari generasi mereka adalah pahlawan lingkungan yang tidak berhenti menyerukan, mengigatkan, dan kalau perlu “berkelahi” dengan otoritas dan korporasi untuk menyelamatkan sekeping tanah Aceh yang kaya dan sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati global yang masih tertinggal. Namun itu semua kini terancam setiap saat dengan kerakusan “kapital” dan keinginginan “jalan pintas” pembangunan dari para pejabat publik.
 
Walaupun pemda Aceh dan masyarakatnya tidak tahu banyak tentang Rudi Putra, pria kelahiran Tamiang itu adalah pemenang  Goldman International Prize pada tahun 2014 atas pengabdiannya menyelamatkan ekosistem Leuser. Banyak pihak menyebutkan, kalaupun tidak sangat sama, tetapi anegerah Goldman Prize telah mulai dianggap sebagai penghargaan lingkungan sejenis Nobel ilmu pengetahuan untuk kerja penyelamatan lingkungan.
 
Tentang M. Nur Walhi, siapa yang tidak kenal dengan pemuda berkumis tebal yang dengan kawan-kawanya telah membuat korporasi Sawit di Nagan Raya dihukum oleh pengadilan dan ditutup. Tidak hanya itu, ia dan kawan-kawannya juga memenangkan upaya “penggagalan” PLTA Tampur di Mahkamah Agung yang seandainya diteruskan, akan membuat lenyapnya salah satu kawasan keanekaragaman hayati terpadat di kawasan ekosistem Leuser.
 
Apa yang menjadi relevan dengan Rudi Putera dan Nur Walhi dalam konteks ancaman pandemi masa depan adalah publikasi terakhir dari jurnal Royal Society yang baru saja menerbitkan temuan semakin banyaknya jumlah konsentrasi virus pada binatang mamalia secara global. Binatang primata dan berbagai jenis kalong adalah dua kelompok mammalia yang pada saat ini memiliki virus paling banyak, akibat tempat tinggal mereka yang semakin kecil dan dekat dengan pemukiman manusia. Semua pihak tahu, bahwa Leuser adalah kawasan yang sangat kaya dengan primata dan berbagai jenis kalong tropis.
 
Persoalan proses zoonosis-perpindahan virus dari binatang ke manusia, dapat saja terjadi setiap saat. Di ekosistem Leuser, kecuali Orang Utan yang fenomenal, ada delapan species lain dari primata yang telah berhasil diidentifikasi. Selanjutnya ada sekitar 200 mammalia lain, dua diantaranya adalah badak Sumatera dan gajah Sumatera yang juga semakin langka. Ada juga 300 species burung, 190 jenis reptil, dan tidak kurang dari 45% tumbuhan yang tercatat, atau sekitar 10.000 jenis tanaman. Selanjutnya Leuser juga kaya dengan bebagai kalong, paling kurang dari 1.400 species kalong di dunia, 47 dari itu ada di ekosistem Leuser.
 
Kalau seperti itu faktanya, ditambah dengan pengaturan tata ruang yang dibuat oleh pejabat publik atas nama rakyat dan negara, maka kita dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan makhluk liar itu, terutama dengan mamalia dan kalong leuser yang berpotensi besar akan terdesak dan bahkan punah. Ini artinya untuk mengerti potensi pandemi di Aceh di masa depan, seseorang, apalagi pejabat publik tidak harus sekolah ataupun mendapat anugerah Doktor Honoris dari kampus terhebat, cukup hanya dengan mengunakan google earth dan melihat perkembangan kawasan yang semakin mengecil dan dengan jujur memberitahu kepada publik tentang ancaman pandemi yang akan datang.
 
Leuser dan Aceh punya banyak mamalia dan kalong, dan peringatan pandemi yang akan datang telah dikaitkan dengan ancaman masa depan terhadap makhluk itu dan lingkungannya. Setiap pandemi sering terkait dengan nama tempat dan penguasanya. Nauzubillah, Aceh tidak harus hebat, karena pandemi. Mulai saat ini, harusnya “aneh” atau “nyeleneh” kalau ada pejabat publik yang terang-terangan melecehkan upaya Rudi, Nur Walhi, dan generasi  Leuser lainnya tentang wacana masa depan Aceh yang lebih baik.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...