Unduh Aplikasi

Resesi Mengancam, Bagaimana Dampaknya dengan Aceh?

Resesi Mengancam, Bagaimana Dampaknya dengan Aceh?
Pengamat Ekonomi Aceh, Rustam Effendi

BANDA ACEH - United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) dalam laporannya memberikan sinyal bahwa resesi global bisa terjadi di tahun 2020. Salah satu indikasi kuat akan tibanya ancaman resesi ini yaitu memanasnya tensi perdagangan, khususnya perang dagang antara AS dan Cina.

"Ini adalah salah satu sinyal bagi para pemangku kebijakan untuk mempersiapkan diri atas gejolak tersebut," bunyi laporan UNCTAD dikutip dari The Guardian, sebagaimana dilansir detik finance, Sabtu (28/9).

Resesi merupakan suatu keadaan dimana terjadinya pelemahan ekonomi. Kondisi ini tentu akan memiliki dampak langsung kepada masyarakat seperti bangkrutnya perusahaan yang mengakibatkan gelombang PHK, sehingga masyarakat akan kehilangan penghasilan.

Melihat fenomena yang beberapa waktu terakhir menjadi perbincangan hangat baik di dalam dan luar negeri ini, AJNN mencoba menggali informasi terkait ancaman dari kondisi ini dan bagaimana dampaknya bagi Aceh.

Pengamat Ekonomi Aceh, Rustam Effendi, mengatakan secara nasional hal ini tentu merupakan ancaman yang mesti mendapat perhatian serius. Apabila hal ini terjadi tentu juga akan memiliki dampak bagi Aceh.

Sejauhmana Aceh terimbas dampak resesi ini dapat dilihat dari share pertumbuhan ekonomi Aceh terhadap ekonomi nasional. Sepengetahuan Rustam, persentase share ekonomi Aceh bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional itu hanya sekitar 0,9 persen.

Rustam Effendi mengatakan Indonesia menganut open economy atau ekonomi terbuka, dimana aktivitas perdagangan didalamnya terdapat ekspor dan impor. Apabila resesi terjadi secara global itu bermakna kemampuan daya beli pasar dunia juga akan jadi melemah, sehingga berpengaruh pada permintaan komoditas yang kita jual.

Ia mencontohkan, Aceh mengekspor komoditi apa ke pasaran, meskipun lewat perantara. Hasil pertanian yang diekspor ke pasar dunia, misalnya, itu akan masuk kedalam neraca perdagangan Indonesia, seperti CPO, Kopi, atau komoditi ekspor lainnya.

Secara umum, Aceh selama ini masih mengekspor dalam bentuk bahan mentah (raw materials). Dengan begitu demandnya (permintaan) tidak bisa dipaksa atau ditambah, semua ditentukan oleh permintaan pasar. Apalagi berhadapan dengan struktur pasar yang Oligopsonistik (hanya bergantung pada beberapa pembeli tertentu saja).

Menurutnya, hal ini amat rentang jika terjadi gejolak di pasar, termasuk penurunan permintaan akibat ancaman resesi tadi. Selama ini pasar untuk komoditas ekspor Indonesia di tingkat global memang sedang kurang bergairah, atau cenderung mengalami penurunan harga.

Melemahnya perekonomian di pasar dunia merupakan implikasi (salah satunya) dari turunnya kemampuan daya beli negara-negara lain yang menjadi pasar ekspor kita. Dengan demikian, tentu ini berimbas pada pertumbuhan ekonomi nasional. Niscaya ikut pula berimbas terhadap Aceh. Sejauh mana dampaknya tergantung share Aceh terhadap ekonomi nasional.

"Share ekonomi Aceh terhadap ekonomi nasional itu memang relatif kecil. Pukulan terhadap ekonomi Aceh (terhadap ancaman resesi yang terjadi) tentu ada. Walaupun mungkin tidak terlalu signifikan," ungkap Rustam Effendi kepada AJNN, Rabu (2/10).

Kata Rustam, pertumbuhan ekonomi itu laiknya semacam circle atau siklus, yang apabila salah satu variabel mengalami kendala, maka akan berdampak secara keseluruhan terhadap variabel yang lain. Demikian pula terhadap output yang dihasilkan.

Pertumbuhan ekonomi itu ditentukan oleh tiga faktor utama seperti komsumsi, investasi, dan ekspor. Selama ini pertumbuhan ekonomi nasional lebih didominasi komsumsi. Bahkan di Aceh, pertumbuhan ekonomi memang hanya semata didorong faktor konsumsi saja.

"Selama ini kita masih bergantung pada konsumsi saja, dan itupun mengandalkan belanja pemerintah melalui APBA. Investasi kita belum ada, sedangkan ekspor juga nilainya masih sangat kecil. Banyak mata dagangan kita yang sudah tidak berkontribusi lagi," kata Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala yang juga pengajar Mata Kuliah Ekonomi Internasional ini.

Melihat kondisi tersebut, ungkap Rustam, seharusnya pemerintah Aceh harus lebih fokus memikirkan arah pembangunan ekonomi di Aceh, agar kedepannya dapat memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, tidak seperti selama ini.

Ada beberapa opsi yang dapat dilakukan pemerintah Aceh. Kucuran dana Otsus dari pusat, misalnya, sebut Rustam, dapat diarahkan alokasinya lebih tepat dengan program-kegiatan yang sesuai kebutuhan. Aceh yang dianugerahi keindahan Alamnya, seperti Sabang, Aceh Besar, Simeulue, dan lainnya, memiliki pantai-pantai yang indah dan eksotik, serta berbagai spot wisata lainnya. Ini seharusnya dapat dioptimalkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi di sektor pariwisata.

Terkait Investasi, Pemerintah Aceh semestinya dapat juga menggunakan dana Otsus itu sebagai dana stimulan untuk menarik minat investor berinvestasi di Aceh. Hal ini tentu harus ditunjang dengan iklim investasi yang mudah dan aman bagi para investor.

"Aceh punya objek wisata yang sangat indah. Tidak semua daerah dianegerahi Allah dengan kelebihan yang luar biasa ini. Mestinya bisa dimanfaatkan. Kita dapat menjual produk wisata halal karena Aceh menerapkan Syariat Islam. Ini yang selama ini belum disentuh secara maksimal," pungkasnya.

Iklan Kriyad

Komentar

Loading...