Unduh Aplikasi

Rencana Pembelian Pesawat, Fraksi Partai Aceh: Harus Disepakati Bersama

Rencana Pembelian Pesawat, Fraksi Partai Aceh: Harus Disepakati Bersama
Ketua Fraksi Partai Aceh, Tarmizi Panyang. Foto: Ist

BANDA ACEH - Ketua Fraksi Partai Aceh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Tarmizi Panyang angkat bicara terkait rencana Pemerintah Aceh membeli empat pesawat terbang jenis N219. 

Tarmizi menyarankan, wacana pembelian pesawat tersebut jangan tergesa-gesa, melainkan harus melihat kembali tingkat prioritas yang menjadi kebutuhan dasar rakyat Aceh saat ini. 

"Sebelum membeli, pemerintah harus melihat kebutuhan utama masyarakat Aceh hari ini," kata Tarmizi kepada wartawan, Sabtu (13/12). 

Seperti diketahui, Pemerintah Aceh sudah menandatangani perjanjian kerja sama atau Memorandum of Understanding (MoU) pengadaan pesawat terbang N219 serta pengembangan sumber daya manusia dan pengoperasian angkutan udara Aceh dengan PT Dirgantara Indonesia (Persero) di Ruang Rapat Paripurna, Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Senin (9/12). 

Pengadaan pesawat itu dilakukan untuk meningkatkan konektivitas antar wilayah di Aceh dalam rangka peningkatan perekonomian masyarakat dan pembangunan daerah.

Mengenai rencana pembelian pesawat, kata Tarmizi, penting bagi pemerintah Aceh untuk membahas bersama dengan legislatif terlebih dahulu jika memang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA). Apalagi jika prosesnya multiyears (tahun jamak), maka sudah pasti wajib mendapatkan persetujuan bersama. 

Baca: Cerita Burung Besi di Langit Aceh

Bukan hanya antara eksekutif dengan legislatif, tetapi juga harus melibatkan atau mendengarkan pendapat publik, terutama akademisi, dan para tokoh yang mengerti tentang kondisi Aceh hari ini. 

"Saya menyarankan agar rencana tersebut harus disepakati dulu bersama, selain eksekutif dan legislatif, masih ada tokoh-tokoh Aceh yang memahami kondisi Aceh, maka perlu meminta pendapat dari mereka," ujarnya. 

"Kita akui atau tidak, pastinya banyak tokoh Aceh yang lebih paham dan memiliki pandangan cerdas membangun Aceh kedepan," sambungnya. 

Tarmizi menuturkan, tidak salah jika Aceh ingin memiliki pesawat, tetapi untuk saat ini alangkah baiknya mengutamakan perhatian terhadap sektor lain yang bersentuhan atau dirasakan langsung manfaatnya oleh rakyat. 

Karena, lanjut Tarmizi, masih sangat banyak persoalan lain yang belum berhasil dituntaskan, dan bahkan belum tersentuh oleh pemerintah provinsi. Seperti pertumbuhan ekonomi rakyat, pengantar kemiskinan, pengangguran, rumah duafa serta banyak masalah lainnya. 

"Ketika permasalahan ini sudah selesai, maka tidak menjadi masalah besar jika Aceh ingin membeli pesawat. Untuk itu, fokus dulu terhadap persoalan tersebut," tutur Tarmizi. 

Selain itu, tambah Tarmizi, pemerintah juga masih perlu memperhatikan  infrastruktur penerbangan yang masih jauh dari kata belum sempurna. Belum lagi, banyak kabupaten/kota di Aceh belum memiliki bandara sendiri. 

"Bahkan, bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) saja masih perlu dibangun lebih baik. Itu dulu yang harus dibenah, baru kemudian kita berfikir untuk beli pesawat," pungkas Tarmizi. 

Komentar

Loading...