Unduh Aplikasi

Rektor Unsyiah: Integritas Mustafa Abubakar Patut Dicontoh Generasi Muda

Rektor Unsyiah: Integritas Mustafa Abubakar Patut Dicontoh Generasi Muda
Rektor Universitas Syiah Kuala Samsul Rizal, bersama Mantan Gubernur Aceh Mustafa Abubakar. Foto: Ist

BANDA ACEH - Rektor Universitas Syiah Kuala Samsul Rizal, menilai integritas dan jiwa kepemimpinan dari Mantan Gubernur Aceh Mustafa Abubakar patut menjadi teladan generasi muda saat ini. Hal ini disampaikan Rektor pada malam Diskusi Kepemimpinan dan Integritas “Pengalaman Mustafa Abubakar” di Kyriad Hotel. (Banda Aceh, 12/2/2020).

Rektor mengatakan, Pak Mus begitu ia disapa hanya sebentar memimpin Aceh yaitu hanya dalam waktu 1 tahun 1 bulan. Namun kehadirannya sebagai orang nomor 1 di Aceh kala itu menjadi sangat berarti bagi pembangunan Aceh selanjutnya.

Padahal saat itu, Aceh dalam kondisi sulit yaitu saat masa transisi perdamaian antara Pemerintah Indonesia dengan GAM, serta masa rehabilitasi dan rekonstruksi saat Gempa dan Tsunami 2004 silam.

“Dalam kondisi sulit seperti itu, Pak Mus mampu melewatinya dengan baik. Hal ini tidak lepas dari integritas dan jiwa kepemimpinanya yang telah teruji. Inilah yang semangat yang patut dicontoh generasi sekarang,” ucap Rektor.

Menariknya lagi, ungkap Rektor, dalam kondisi kritis seperti itu Pak Mus mampu melaksanakan Pilkada dengan sukses. Pilkada di Aceh itu merupakan Pilkada pertama di Indonesia, yang selanjutnya baru diikuti oleh daerah lain di Indonesia.

Diskusi malam itu berlangsung menarik. Ada banyak tokoh penting yang hadir, di antaranya Para Wakil Rektor Unsyiah, Mantan Sekda Aceh, Profesor dan Wakil Rektor UIN Ar Raniry serta tokoh intlektual Aceh lainnya.

Diskusi ini langsung dimoderatori oleh Rektor Unsyiah. Pada malam itu, Pak Mus menceritakan perjalanan hidupnya saat kecil hingga mendapatkan beasiswa ikatan dinas untuk kuliah di IPB Bogor.

Selain itu, ada begitu banyak cerita tak terungkap selama kepemimpinan Pak Mus. Baik ketika ia menjabat sebagai Gubernur Aceh, Menteri BUMN atau Kepala Bulog.

Di antaranya, saat di hari-hari pertamanya menjabat sebagai Kepala Bulog. Pak Mus pernah ditawari pengusaha asal Singapura berupa fee jika ia bersedia melakukan impor beras. Jumlahnya pun cukup fantastis, mencapai puluhan milyar rupiah.

Begitu pula ketika ia menjadi Gubernur Aceh, Pak Mus pernah diteror akan dibunuh melalui SMS. Pernah pula ditawari sejumlah uang. Namun Pak Mus dengan semangat integritasnya, menolak hal semua godaan tersebut. Dan berhasil melewati berbagai tekanan kepada dirinya.

“Dalam kepemimpinan saya, ada core value yang selalu saya jaga yaitu berani untuk mengambil keputusan yang tidak populer, dan harus kuat menghadapi tekanan,” ucapnya.

Iklan Kriyad

Komentar

Loading...