Unduh Aplikasi

Rekanan Bibit Pinang: Ramli Jangan Asal Bicara, Baca Aturan

Rekanan Bibit Pinang: Ramli Jangan Asal Bicara, Baca Aturan
Pengumuman pemenang tender pengadaan bibit pinang di Aceh Barat, tahun anggaran 2018. Foto: Dok AJNN

ACEH BARAT - Direktur PT Mustika Putra Utama, Zakaria, rekanan pemenang tender pengadaan bibit pinang betara, bagi kelompok tani di Aceh Barat, meminta Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) setempat, Ramli SE, untuk tidak asal cuap dalam menyampaikan keterangan terkait belum disalurkannya bibit pinang tersebut.

Zakaria mengaku kesal dengan pernyataan Ramli SE, karena menyampaikan keterangan tanpa mempelajari aturan yang berlaku terutama menyangkut dengan adendum dalam pengadaan bibit tersebut.

"Harusnya Ramli, selaku Ketua DPRK itu tahu dengan aturan, apalagi DPRK itu lembaga pengawasan dan juga pembuat aturan. Jangan asal bicara, jadi beliau pelajari dulu tentang aturan Perpres nomor 16 Tahun 2018 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa, juncto Perpres nomor 54 Tahun 2010 yang di dalamnya mengatur tentang adendum," kata Zakaria, kepada wartawan, Kamis (23/1).

Ia berpendapat adendum yang dilakukan antara perusahaan dengan Disbunnak Aceh Barat, lantaran pihak perusahaan sedang dalam pengurusan sertifikasi ulang, dari Unit Pelaksanaan Teknis Daerah (UPTD) Dinas Perkebunan Aceh setelah adanya sertifikasi dasar.

Sertifikasi ulang yang dilakukan perusahaan terhadap bibit itu sendiri, kata Zakaria, mengikuti Kementan nomor 06, dimana dalam aturan tersebut mengharuskan usia bibit tersertifikasi yakni usia lima bulan, dan dasar itu pula menurutnya dilakukan adendum.

Baca: Ketua DPRK Menduga Adendum Pengadaan Bibit Pinang Ada Intervensi

"Kalau yang disyarakat dalam tender itu usianya tiga bulan, namun merujuk pada Kementan 06, maka kami lakukan adendum, untuk disertifikasi ulang. Jadi sekali lagi Ramli jangan asal bicara sebelum bicara aturan," ujarnya.

Dirinya mengaku, adendum yang dilakukan tersebut bertujuan untuk menyelamatkan uang negara, meski sebenarnya dirinya selaku rekanan merugi lantaran harus membayar denda atas adendum tersebut.

"Tidak adanya permainan dalam proyek pengadaan bibit pinang ini," tegasnya.

Selaku rekanan, kata Zakaria, pihaknya sudah menjalankan kegiatan pengadaan bibit sejak 2009 lalu, sehingga dirinya mengaku cukup profesional dalam persoalan ini, dan layak menang dalam tender tersebut.

"Kalau disebut saya ada permainan dan dekat dengan orang dinas itu tidak benar. Saya kenal dengan orang dinas dan panitia lelang itu setelah menang. Dan dipanggil untuk pembahasan kontrak," ujarnya.

Selain itu, ia mengaku bibit pinang tersebut sudah ada tiga bulan yang lalu, saat ini berada di tempat penangkaran.

"Sudah ada bibitnya, sekarang di penangkaran yang berada di Meulaboh dan Banda Aceh, bahkan sebagian bibit sudah berlebel," ungkapnya.

Kyriad Muraya Hotel Aceh

Komentar

Loading...