Unduh Aplikasi

Reinternalisasi Kearifan Lokal, Demi Identitas Bangsa

Reinternalisasi Kearifan Lokal, Demi Identitas Bangsa

Oleh : Heni Satria*

Memasuki unlimited era ini, hampir semua unsur terserang virus globalisasi. Globalisasi yang dimaksud juga tidak lekang dari nilai positif dan nilai negatif. Ketika itu bernilai positif atau bisa dikatakan produktif, maka perlu ditiru untuk pengembangan berbagai hal. Yang akan membawa perubahan, misalnya dalam hal ketertinggalan  dalam bidang teknologi. Namun, kita harus berbalik arah ketika kita menemui yang berbau negatif, harus siap memasang badan dan selalu bertindak solutif. Kerena jika tidak, itu akan menjadi momok yang sangat problematis. Terlebih lagi masa sekarang adalah masa tanpa batas, informasi yang didapatkan oleh setiap orang tanpa terhalangi sedikitpun.

Permasalahan sosial juga ikut meramaikan kehidupan dan sangat mengkhawatirkan. Manipulasi informasi ada di mana-mana dan itu menjadi hal yang lumrah. Karena hampir semua kalangan sudah melakukan hal tersebut. Sangat susah menghindari fenomena hidup yang sedemikian rupa. Perlu kesiagaan yang luar bisa pada setiap individu. Tidak berlaku apatis adalah jawaban keselamatan bersama yang saling bahu membahu dalam hal kebaikan.

Misalnya, di bidang sosial telah hilang rasa ingin bergotong royong di kalangan masyarakat. Acuh tak acuh menjadi hal yang biasa dalam kehidupan. Rasa peduli pada diri seseorang mengalami degradasi yang sangat akut. Karakter masyarakat Indonesia yang santun dalam berperilaku tidak lagi tampak. Disusul juga dengan rasa egoisme yang semakin meninggi di kalangan sesama.

Lain halnya yang terjadi di bidang budaya. Merebaknya budaya-budaya asing yang sangat digemari oleh remaja. Budaya yang melalaikan setiap anak bangsa. Jika ditanyakan kepada mereka tentang dari mana budaya itu berasal, mereka akan sergap menjawab dengan antusiasme tinggi. Sangat bertolak belakang jika kita tanya filosofi budaya yang ada di Indonesia, mereka banyak yang tidak mengetahuinya.

Dari dua bidang tersebut di atas, dapatkah kita tarik benang merah bahwa bangsa kita tengah dilanda krisis identitas. Kenapa? Dulu, sikap dan perilaku bergotong royaong adalah hal yang sangat diprioritaskan demi kemaslahatan bersama. Sedangkan perilaku mengambil budaya luar mengakibatkan tergerusnya budaya lokal. Efek dari praktik yang dilakukan para remaja ini sungguh menjauhkan dari budaya yang kita miliki. Terutama Indonesia yang memiliki kebudayaan yang sangat beragam.

Solusi yang paling jitu untuk pemecahan masalah itu adalah melakukan sebuah upaya yang disebut internalisasi makna kearifan lokal. Sebagaimana telah digembar-gemborkan oelh para pemerhati budaya di Indonesia. Makna dari kearifan lokal itu sendiri adalah kekayaan budaya yang mengandung kebajikan hidup (way of life) atau pandangan hidup yang mengakomodasikan kebijakan (wisdom) dan kearifan hidup seperti yang diungkapkan oleh Suyono Suyatno.

Adapun hal yang dapat tertangkap dari masyarakat terhadap penanaman atau revitalisasi kearifan lokal ini adalah akan lahir sebuah pemahaman akan sebuah gagasan atau nilai-nilai pandangan setempat atau lokal yang bersifat bijaksana dengan penih kearifan. Juga akan melahirkan masyarakat yang melahiran sikap dan perilaku yang arif dalam bertindak. Karena pada hakikatnya, sifat dari kearifan lokal itu adalah empirik dan bersifat pragmatis. Sifat empiriknya dikarenakan semua tindak tanduk kearifan lokal merupakan hasil olahan manusia. Sedangkan pragmatis, disebabkan ia berorientasi memecahkan permasalahan-permasalahan sehari-hari (daily problem).

Kearifan lokal ini akan semakin menjadi abadi ketika terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari yang bisa merespon keadaan zaman yang tengah terseret arus. Terimplementasikan juga dalam kebijakan negara sehingga menerapkan ekonomi yang berazaskan gotong royong. Karena azas ekonomi itu diterapkan dapat menjadikan perekonomian di Indonesia lebih baik. Untuk itu sangat penting untuk menggali, melestarikan dan menata kembali berbagai unsur kearifan lokal, tradisi, dan pranata lokal, termasuk unsur norma sangat bermanfaat untuk mengembalikan identitas bangsa.

 Dengan demikian, sangatlah perlu internalisasi dan implementasi kearifan lokal daam masyarakat Indonesia. Di samping karena ruh dari bangsa Indonesia, kearifan lokal juga dapat menumbuhkan kembali identitas bangsa Indonesia yang terkenal dengan budaya gotong royong dan toleransi serta mencintai budaya leluhur bangsa. Jadi, mulai sekarang kita harus bergerak untuk mengimplementasikan kearifan lokal. Jangan kita menjadikannya sebagai harta pusaka yang kita wariskan dari leluhur, kita jaga, kita pelihara namun kita tidak mengimplementasikannya dalam kehidupan kita.

 *) Penulis adalah Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Malang

Komentar

Loading...