Unduh Aplikasi

Realitas di Sekitar Panggung Bergek

Realitas di Sekitar Panggung Bergek
TAK perlu meributkan kejadian di Taman Ratu Safiatuddin, Ahad malam lalu. Saat Adi Bergek, vokalis yang tengah naik daun, menggoyang ratusan penonton dengan sejumlah hits yang akrab di telinga orang Aceh. Semua bergoyang. Semua bernyanyi. Tanpa batas, tanpa hijab.

Bergek menghadirkan nada-nada yang dinamis, jauh dari suara hiruk pikuk politik yang menjemukan: monoton. Yang menampilkan wajah-wajah politisi yang semakin lama terlihat semakin mirip, satu dengan lainnya. Wajah tirus Bergek, menjadi pembeda.

Kehadiran Bergek juga membuat penonton sejenak melupakan kesewenangan Perusahaan Listrik Negara. Bergek benar-benar memberikan penonton hiburan, alih-alih derita seperti yang selalu diberikan oleh perusahaan plat merah itu.

Dan untuk sesaat, penonton melupakan sumpah serapah. Mereka mengikuti koor yang dipimpin seorang dirijen bernama Bergek.

Bergek benar-benar menjadi pemimpin. Bukan pemimpin yang memaksakan kebenarannya sendiri. Dia melayani seluruh keinginan malam itu. Tidak seperti pemimpin kebanyakan di negeri ini. Pemimpin yang lebih banyak menyiksa rakyat sendiri. Merusak tatanan hidup bersama dan, pada akhirnya, menghancurkan diri si pemimpin itu sendiri.

Sayangnya, perilaku ini juga ditiru oleh banyak orang dan menerapkannya di banyak tempat. Di kantor, di rumah tangga, di pergaulan gampong, di organisasi. Mereka berubah menjadi otoriter dan diktator.

Perlu banyak persyaratan untuk mencapai tahapan demokrasi. Kematangan emosional, kejujuran bertindak dan berpikir serta kematangan sikap dan mental. Tidak cukup hanya dengan slogan semu yang membosankan. Karena rakyat kini kritis dan tahu.

Komentar

Loading...