Unduh Aplikasi

Realisasi Pengerukan Pelabuhan Ulee Lheue Hanya 84 Persen

Realisasi Pengerukan Pelabuhan Ulee Lheue Hanya 84 Persen
Tongkang yang terparkir di Pelabuhan Ulee Lheue. Foto: AJNN.Net/Fauzul Husni

BANDA ACEH - Proyek pengerukan kolam Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue senilai Rp 12,6 miliar, tahun anggaran 2019, hingga habis waktu hanya mampu sudah mencapai 84 persen.

Proyek yang berada di bawah Dinas Perhubungan Aceh itu dikerjakan oleh PT Bohana Jaya Nusantara.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh, Junaidi mengklaim realisasi proyek yang hanya 84 persen sudah memadai untuk operasional kapal.

Baca: Dengan Waktu Efektif 75 Hari, Dipastikan Pengerukan Pelabuhan Ulee Lheue Gagal

"Pengerukan pada posisi sekarang sudah pada kedalaman yang memadai untuk operasional," kata Junaidi kepada AJNN, Jumat (3/1).

Selain itu, ia juga mengungkapkan kalau kontrak proyek tersebut sudah ditutup dengan final kuantitinya hanya 84 persen.

Wawancara dilakukan melalui pesan singkat whatsApp, Junaidi mengaku sudah meminta Faisal untuk komunikasikan masalah tersebut.

"Saya minta pak faisal komunikasikan, mohon maaf saya sedang ikuti angkutan natal dan tahun baru," ujar Junaidi.

Sementara dari dokumen yang diterima AJNN, proyek dengan nilai kontrak Rp12,6 miliar dengan volume rencana yakni 113.530,23 m3, dengan jenis kontrak harga satuan dengan kedalaman -7 meter.

Sementara realisasi akhir proyek itu yakni 84,26 persen atau 95.662,64 m3, sehingga masih sangat jauh dari volume rencana yakni 113.530,23 m3.

Untuk diketahui, proyek pengerukan kolam itu hingga akhir September belum juga dikerjakan. Pemenang proyek tersebut beralamat di Jl Sawang - Krueng Mane No. 12 A Pasar Inpres Krueng Manem, Aceh Utara - Lhokseumawe.

Salah sumber yang selama ini sering mengerjakan proyek itu menjelaskan cara penghitungan teknis untuk pekerjaan itu. Dimana 113 000 M3 adalah volume di lokasi kerja bersifat PADAT, kemudina 500 M3 adalah kapasitas muatan sedimet keruk pada tongkang hopper adalah bersifat gembur, dan plus minus antara padat dan gembur = 25 persen.

"Jadi total material hasil kerukan yang harus diangkut adalah 113 000 + 25 persen = 145 000 M3. Artinya butuh 150 000: 500 M3 = 300 trip pembuangan tongkang," kata sumber itu kepada AJNN, Rabu (25/9).

Sementara kapasitas spesifikasi alat kerja, kata sumber itu, Clamshell 35 ton dengan bucket 2 - 3 M3 memiliki kapasitas produksi 40 - 60 M3/ jam, artinya butuh 8 - 10 jam untuk pengisian penuh tongkang Hooper 500 M3. Kapasitas tuq boat 600 Hp maximal kecepatan 1.5 - 2 knot / mil. Artinya untuk jarak buang 10 Mil butuh waktu 5 - 6 jam pulang pergi.

Baca: Mungkinkah Pengerukan Kolam Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue Selesai dalam 75 Hari?

Ia menjelaskan perlu diketahui bahwa untuk pekerjaan pada lokasi pelabuhan aktif, maka titik lokasi kerja harus terpisah dari titik lokasi parkir/sandar. Artinya bahwa setiap kali melakukan pekerjaan pengerukan semua alat keruk dan tongkang baru digerakkan dan digeser dari lokasi parkir ke lokasi gerak yang pasti membutuhkan waktu minimal 1 - 2 jam untuk persiapan.

"Kesimpulannya butuh waktu minimal 16 - 18 jam kerja untuk mendapatkan satu trip tongkang dengan volume 500 M3 gembur. Dengan catatan tidak ada kendala kerusakan. Dengan asumsi alat yang ada di lokasi kerja saat ini," ungkapnya.

Iklan Pemutihan BPKB- Pemerintah Aceh

Komentar

Loading...