Unduh Aplikasi

RDP Sengketa Lahan PT PAAL di DPRK Aceh Barat Ricuh

RDP Sengketa Lahan PT PAAL di DPRK Aceh Barat Ricuh
Keuchik Blang Luah menangis, sesaat setelah meluapkan emosinya.

ACEH BARAT - Rapat Dengar Pedapat (RDP) terkait sengketa lahan antara perusahaan perkebunan sawit PT Prima Aceh Agro Lestari (PAAL) dengan warga Desa Napai dan Blang Luah, Kecamatan Woyla Barat berlangsung ricuh.

Kericuhan bermula saat pihak perusahaan yang diwakili Humas PT PAAL yakni Rudi Salim dan Yunita, tidak dapat memberi penjelasan secara tegas ketika Wakil Ketua Dua, Kamaruddin menanyakan langkah perusahaan dalam penyelesaian konflik lahan tersebut.

"Saudara dari perusahaan, kami ingin tanya apa langkah yang akan dilakukan perusahaan dalam penyelesaian lahan ini. Supaya jangan ribut-ribut. Kami mau perusahaan mundur selangkah dengan tidak memaksakan lahan yang tidak diberikan warga," tanya Kamaruddin.

Namun bukannya memberi penjelasan sesuai pertanyaan, Rudi malah menjelaskan jika perusahaan tersebut hadir untuk membangun negara, dan bertujuan untuk memberikan penghasilan terhadap negara.

Mendapat jawaban yang tidak sesuai, sontak pria yang disapa Hakam ini emosi, dan marah sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Humas PT PAAL.

"Saya tidak tanya kenapa perusahaan hadir, yang saya tanyakan langkah apa yang akan diambil perusahaan dalam penyelesaian sengketa lahan. Anda paham tidak," kata Haji Kamaruddin. 
Setelah melampiaskan emosinya Haji Kamaruddin lalu meninggalkan ruang pertemuan.

Bukan hanya Haji Kamaruddin, anggota DPRK dari Komisi I, Hamdan juga sempat emosi. Dalam pernyataannya Hamdan menyebutkan jika membangun negara tidak hanya dilakukan perusahaan itu.

Akan tetapi, kata Hamdan, warga juga ikut membangun negara dengan membayar pajak, serta patuh akan kewajiban mereka dengan melunasi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

"Kalian kira ini masyarakat tidak penah membangun negara. Warga juga bayar pajak, bayar PBB," kata Hamdan.

Lantaran forum mulai memanas, ketua DPRK, Samsi Barmi mengambil alih sidang yang sebelumnya dipimpin oleh Kamaruddin.

Samsi Barmi meminta kepada semua peserta yang hadir dalam sidang dalam RDP tersebut untuk tenang dan menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin.

Setelah itu, suasana ruangan kembali tenang sesaat. Akan tetapi suasana kembali ricuh saat Kepala Desa Blang Luah, M Samin hendak menyampaikan persoalan konflik lahan itu.

Tiba-tiba saja M Samin meluapkan emosinya. Dengan nada emosi Kepala Desa Blang Luah itu langsung meninju meja dan berteriak.

Khawatir terjadi adu fisik, sejumlah warga desa Blang Luah segera menenangkan M Samin dengan membawanya keluar dari ruang pertemuan itu.

Setelah suasana kembali tenang, sidang akhirnya ditutup dengan kesimpulam dilakukannya pengukuran ulang batas lahan Hak Guna Usaha (HGU) warga dengan perusahaan itu, meski sebagian warga yang hadir menolaknya dan meminta Desa Napai dan Blang Luah dikeluarkan dari HGU PT PAAL.

 

Komentar

Loading...