Unduh Aplikasi

Rasuah Berbalut Tekor

Rasuah Berbalut Tekor
PERUSAHAAN Daerah Kabupaten Simeulue memang fenomenal. Sejak awal pendiriannya, perusahaan ini terus menerus memanen masalah. Alih-alih menjadi tangan pemerintah untuk menambah modal untuk membangun kesejahteraan masyarakat di daerah itu, PDKS terus membenani anggaran daerah.

Dalam hitung-hitungan sederhana, berkebun kepala sawit adalah tentang keuntungan. Setiap kilogram tandan buah segar bakal menambah pundi-pundi keuangan pemiliknya. Hanya sesekali saja harganya anjlok. Namun kerugian itu bisa ditutupi dengan harga jual crude palm oli (CPO)  yang cenderung stabil.

Kebutuhan terhadap minyak kelapa sawit di seluruh dunia juga terus meningkat. Saat ini, Indonesia menjadi eksportir terbesar CPO dunia. Ini didukung ketersediaan lahan dan tenaga kerja murah. Dalam investasi, dua hal ini adalah surga.  

Tak heran, hanya dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, sawit menjadi primadona investasi. Di sepanjang Sumatera, Kalimantan, sebagian Sulawesi, dan kini Papua, sawit menggantikan hutan-hutan primer. Keuntungan menggiurkan mengalahkan keinginan untuk tetap menjaga hutan tetap lestari.

Tentu cukup aneh saat mendengar Pemerintah Kabupaten Simeulue menutup operasional PDKS dengan alasan perusahaan itu terus merugi dan membebani keuangan daerah. Sebagai sebuah perusahaan, PDKS harusnya dikelola dengan berorientasi kepada keuntungan. Ada uang ada barang.

Klaim bahwa PDKS merugi Rp 51 miliar jelas tak bisa diiyakan saja. Ini bukan kerugian biasa. Tentu ada orang-orang yang mendapatkan keuntungan besar dari kerugian ini. Manajemen, dewan perwakilan rakyat dan bupati, harus mempertanggungjawabkan kerugian ini.

Kejaksaan harus benar-benar memikirkan langkah untuk menjerat mereka yang mencoba mencuri uang negara dan menjadikan PDKS sebagai kambing hitam. Jangan mau terkecoh dengan menumbalkan rugi guna menutupi praktik korupsi di PDKS.

Komentar

Loading...