Unduh Aplikasi

Rapor Merah Anggaran Daerah

Rapor Merah Anggaran Daerah
ilustrasi: goodfon

KALENDER Desember 2019 akan segera disobek. Namun realisasi anggaran yang diplotkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh 2019 masih jauh dari kata "memuaskan". Dengan hanya menyisakan beberapa hari, mustahil rasanya Pemerintah Aceh mampu menghabiskan anggaran tersedia, senilai Rp 17 triliun lebih, sesuai dengan peruntukannya.

Dapat dipastikan penyerapan anggaran Aceh tahun ini jeblok. Hingga saat ini, pemerintah hanya mampu menyerap anggaran di bawah 70 persen dari total anggaran tersedia. Kondisi ini jelas tak elok. Apalagi, kondisi ini terjadi sejak pergantian rezim.

Kondisi ini jelas merugikan rakyat Aceh. Uang besar yang dialokasikan harusnya dapat dimanfaatkan, sebesar-besarnya, untuk kepentingan rakyat. Mulai dari peningkatan pelayanan kesahatan, pendidikan dan pelayanan publik lain hingga kepada peningkatan pembangunan infrastruktur dan penjagaan hutan.

Anggaran daerah adalah elemen penting dalam pembangunan. Rinciannya akan sangat berpengaruh pada situasi moneter untuk jangka waktu tertentu. Anggaran menjadi alat pengendalian unit kerja dan menjadi bagian dari instrumen politik dan instrumen kebijakan.

Karena itu, untuk menjalankannya, diperlukan orang-orang cakap dan jujur. Sumber daya yang mampu melakukan efisiensi dan memastikan anggaran terealisasi dengan baik, sesuai dengan perencanaan.

Kondisi yang terjadi di Aceh, saat ini,  menunjukkan ketidakmampuan pemimpin daerah untuk menjalankan amanah. Pelaksana tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah adalah orang yang paling bertanggung jawab atas buruknya serapan anggaran daerah ini.

Ketidakmampuan Nova menunjuk pejabat berkompeten untuk duduk di Satuan Kerja Perangkat Aceh tergambar jelas dari angka-angka serapan anggaran. Nova pun harus mengungkapkan kepada masyarakat Aceh secara luas tentang kegagalan mereka menjalankan amanah ini dan meminta maaf atas kegagalan ini.

Kata “maaf” ini penting disampaikan oleh Nova secara terbuka. Meminta maaf tidak hanya bermakna dirinya menyesal. Permintaan maaf ini juga berarti dia, sebagai seorang yang dipercaya memimpin Aceh, tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama di sisa kepemimpinannya.

Komentar

Loading...