Unduh Aplikasi

Ramli MS Bantah Pukul Zahidin, Begini Kronologinya

Ramli MS Bantah Pukul Zahidin, Begini Kronologinya
Bupati Aceh Barat, Ramli MS.

ACEH BARAT- Setelah beredar luas di media sosial terkait dugaan pemukulan terhadap seorang warga Bakongan, Aceh Selatan, Zahidin yang dilakukan Bupati Aceh Barat, Ramli MS, Selasa, (18/2) lalu, akhirnya Ramli angkat bicara.

Ramli mengatakan peristiwa yang terjadi di halaman belakang pendopo terhadap Zahidin saat itu, tidak seperti video yang tersebar di media sosial, yang telah menuduh dirinya memukul Zahidin.

Ramli membantah, jika ia telah memukul Zahidin pada saat itu. Disebutkannya, ketika peristiwa itu terjadi ia hanya mendorong Zahidin, lantaran Zahidin yang sebelumnya dalam posisi duduk lalu berdiri dengan kanan menuju kearahnya.

Melihat kondisi tersebut, kata dia, dengan posisi sigap ia berdiri dan mendorong Zahidin agar tidak mencelakainya, bukan memukulnya seperti yang dituduhkan padanya.

“Tidak benar saya memukulnya, saya tidak memukulnya saat itu. Tapi hanya mendorong dia, karena saat itu ia berdiri dengan tangan mengarah ke saya. Saya tidak tahu dia mau ngapain saat itu, karena melihat hal itu saya mendorongnya,” kata Ramli MS, kepada wartawan, saat melakukan konferensi pers di Pendopo Bupati, Kamis, (20/2).

Ramli menjelaskan, sebelum peristiwa tersebut terjadi Zahidin mendatangi Pendopo Bupati bersama dengan empat rekannya yang lain dan langsung menjumpainya

Baca: Diduga Pukul Warga, Bupati Aceh Barat Dipolisikan

Saat didatangi oleh Zahidin bersam rekan-rekannya, kata Ramli, ia menyambut dengan baik lantaran ia mengira, Zahidin merupakan uztad yang ingin melakukan majelis taklim.

Akan tetapi saat itu Zahidin bersama dengan keempat rekannya tersebut, saat memperkenalkan diri menyebutkan bahwa maksud kedatangannya sebagai kuasa hukum Akrim.

Mereka itu datang berjumlah lima orang. Begitu duduk didekat saya saat itu ia (Zahidin) memperkenalkan diri dan mengaku kuasa hukumnya Akrim. Ia mengaku ustadz dari Aceh Selatan dan mengaku pernah mendoakan dirinya agar menjadi bupati saat pilkada lalu.

"Dan Alhamdulillah bapak jadi Bupati berkat doa saya. Dan saat itu Akrim juga memberikan kerbau sama saya untuk kenduri dan Alhamdulillah Bapak Jadi Bupati. Setelah itu dia bilang saya ada persoalan sama bapak, ada persoalan penagihan,” kata Ramli menirukan Zahidin.

Karena disebutkan adanya penagihan, lalu Ramli mengaku dirinya bertanya kepada Zahidin penagihan terkait hal apa. Dan Zahidin, menunjukkan surat dengan kop bertuliskan Jurnal Bhayangkara news. Melihat surat tersebut, Ramli mengatakan jika surat tersebut pernah ia terima sebelumnya.

Ia mengira surat Jurnal Bhayangkara News yang, ditunjukkan kepadanya itu merupakan surat tugas media yang pernah ia disposisikan kepada Sekretariat Daerah (Sekda) setempat untuk ditelaah.

“Jadi saat itu ia menunjukkan surat ini kepada saya. Memang sebelumnya surat tersebut pernah diterimanya dan saya menuliskan untuk menghadapi sekda dan akhirnya mereka telaah dan dibuka semuanya dan setelah mereka telaah bahwa apa yang tertera disini tidak ada sangkut pautnya dengan saya sama sekali,” ujarnya.

Baca: Adi Maros Sebut Bupati Aceh Barat Berperilaku Preman

Menurutnya, dalam surat dengan kop Jurnal Bhayangkara yang menyebutkan tentang tagihan hutang yang dituduhkan atas dirinya itu sama sekali tidak ada hubungannya, lantaran berdasarkan surat tersebut yang mengambil uang orang lain, namun anehnya menurut Ramli malah dibebankan kepada dirinya.

Ramli menambahkan berdasarkan catatan dalam surat tersebut atas hutang berjumlah Rp 279 juta, guna kepentingan pelantikannya sebagai Bupati terpilih tahun 2017 lalu tidak benar dan tidak ada kaitannya sama sekali.

Ramli menjelaskan kepada Zahidin atas tidak ada kaitan atas hutang tersebut dengannya, namun Zahidin memaksa agar dirinya bertanggung jawab, namun Ramli menolak bertanggung jawab lantaran merasa tidak ada hubungan dengan dirinya.

“Lalu saya bilang apa yang harus saya tanggung jawab tidak ada hubungannya dengan saya, jadi apa yang saya bayar saya pun tidak tahu. Lalu saya kayak dipaksa, kayak diperas saya tapi dia tetap bilang hutang itu harus bayar, nggak mau saya bilang,” cerita Ramli.

Saat ramli menyatakan pada Zahidin yang saat itu posisi keduanya sedang duduk, tangan Ramli tanpa sengaja menyentuh lutut Zahidin. Lantaran tidak menerima lututnya tersebut tersentuh, lalu sebut Ramli, Zahidin pun berdiri sambil mengatakan kenapa memegang dirinya.

Saat dalam posisi berdiri itu, kata dia, Zahidin mengarahkan tangganya ke Bupati dengan posisi jari-jari seperti hendak mendorongnya, lantaran melihat kondisi tersebutlah Ramli terlebih dahulu mendorong tangan Zahidin.

“Jadi saat saya menolak dan bilang tidak mau, posisi tangan saya tidak sengaja terkena dia. Lalu dia bilang jangan pegang-pegang saya. Lalu saya Tanya bagaimana juga dalam bahasa Acehnya pokoknya pakiban-pakiban, saat saya bilang pakiban-pakiban dia bangun tangannya sudah kearah saya. Saya doronglah tangannya takut terkena saya. Jadi tidak benar saya memukul dia,” ungkapnya.

Setelah itu, ia mendorong tangan Zahidin empat rekan Zahidin lainnya saat itu mengangkat kursi namun Ramli tidak tahu kenapa kursi-tersebut diangkat oleh rekan-rekan Zahidin lantaran ajudan dan beberapa stafnya langsung menyuruhnya masuk dalam rumah.

Iklan Pemutihan BPKB- Pemerintah Aceh

Komentar

Loading...